Monday, September 04, 2006
Mimpi Bertemu Cak Nur 1
Mimpi bertemu Cak Nur 1
Malam Rabu (7-6-2006) aku bermimpi berjumpa Cak Nur. Dalam mimpi tersebut Cak Nur naik mobil Kijang model Grand Extra dan beliau dalam keadaan lumpuh (tidak dapat berjalan). Beliau memberikan isyarat agar aku memapahnya. Aku pun datang menghapiri mobil tersebut dab memapah beliau dan aku dudukkan di suatu tempat. Seperti Aula tapi bukan aula Universitas Paramadina. Suasananya pun bukan suasana kampus Universitas Paramadina. Lokasi seperti di sebuah desa dimana banyak tumbuh pohon mangga yang rindang, dengan halaman yang luas di depannya. Pada waktu, nampaknya di tempat itu ada semacam acara bagi para siswa dan mahasiswa seperti pidato, ceramah, permainan dan lain-lain. Pada saat aku papah Cak Nur ada Bu Omi Komariah (istri Cak Nur) mengikuti kami dan berjalan disebelah saya juga tanpa berbicara apa-apa.
Dalam suasana kegiatan atau acara para siswa itu, Cak Nur duduk di ruang terpisah disebelah aula. Beliau tidak berkata apapun kepadaku. Hanya memberi isyarat agar aku memapahnya membawa beliau ke tempat yang dituju dari mobil, dan mendudukkannya di ruang sebelah aula.
Apakah tafsir mimpi tersebut? Saya sendiri belum tahu maknanya. Ada yang bisa? Kami tunggu komentar anda. Wallahu A’lam bi al-Shawab.
Malam Rabu (7-6-2006) aku bermimpi berjumpa Cak Nur. Dalam mimpi tersebut Cak Nur naik mobil Kijang model Grand Extra dan beliau dalam keadaan lumpuh (tidak dapat berjalan). Beliau memberikan isyarat agar aku memapahnya. Aku pun datang menghapiri mobil tersebut dab memapah beliau dan aku dudukkan di suatu tempat. Seperti Aula tapi bukan aula Universitas Paramadina. Suasananya pun bukan suasana kampus Universitas Paramadina. Lokasi seperti di sebuah desa dimana banyak tumbuh pohon mangga yang rindang, dengan halaman yang luas di depannya. Pada waktu, nampaknya di tempat itu ada semacam acara bagi para siswa dan mahasiswa seperti pidato, ceramah, permainan dan lain-lain. Pada saat aku papah Cak Nur ada Bu Omi Komariah (istri Cak Nur) mengikuti kami dan berjalan disebelah saya juga tanpa berbicara apa-apa.
Dalam suasana kegiatan atau acara para siswa itu, Cak Nur duduk di ruang terpisah disebelah aula. Beliau tidak berkata apapun kepadaku. Hanya memberi isyarat agar aku memapahnya membawa beliau ke tempat yang dituju dari mobil, dan mendudukkannya di ruang sebelah aula.
Apakah tafsir mimpi tersebut? Saya sendiri belum tahu maknanya. Ada yang bisa? Kami tunggu komentar anda. Wallahu A’lam bi al-Shawab.
Monday, June 26, 2006
Mimpi Bertemu Cak Nur
Mimpi bertemu Cak Nur
Malam Rabu (7-6-2006) aku bermimpi berjumpa Cak Nur. Dalam mimpi tersebut Cak Nur naik mobil Kijang model Grand Extra dan beliau dalam lumpuh (tidak dapat berjalan). Aku papah beliau dan aku dudukkan di Aula. Tapi suasananya bukan aula Universitas Paramadina. Suasana di tempat itu ada semacam acara bagi para siswa dan mahasiswa seperti pidato, ceramah, permainan dan lain-lain. Pada saat aku papah Cak Nur ada Bu Omi Komariah (istri Cak Nur) disebelah saya menginguti jalan kami berdua.
Dalam suasana kegiatan atau acara para siswa itu, Cak Nur di ruang terpisah disebelah aula. Beliau tidak berkata kepadaku. Hanya memberi isyarat agar aku memapahnya membawa beliau ke tempat yang dituju dari mobil, dan mendudukkannya di ruang sebelah aula.
Apakah tafsir mimpi tersebut? Saya sendiri belum tahu maknanya. Ada yang bisa? Kami tunggu komentar anda. Wallahu A’lam bi al-Shawab.
Malam Rabu (7-6-2006) aku bermimpi berjumpa Cak Nur. Dalam mimpi tersebut Cak Nur naik mobil Kijang model Grand Extra dan beliau dalam lumpuh (tidak dapat berjalan). Aku papah beliau dan aku dudukkan di Aula. Tapi suasananya bukan aula Universitas Paramadina. Suasana di tempat itu ada semacam acara bagi para siswa dan mahasiswa seperti pidato, ceramah, permainan dan lain-lain. Pada saat aku papah Cak Nur ada Bu Omi Komariah (istri Cak Nur) disebelah saya menginguti jalan kami berdua.
Dalam suasana kegiatan atau acara para siswa itu, Cak Nur di ruang terpisah disebelah aula. Beliau tidak berkata kepadaku. Hanya memberi isyarat agar aku memapahnya membawa beliau ke tempat yang dituju dari mobil, dan mendudukkannya di ruang sebelah aula.
Apakah tafsir mimpi tersebut? Saya sendiri belum tahu maknanya. Ada yang bisa? Kami tunggu komentar anda. Wallahu A’lam bi al-Shawab.
Thursday, June 08, 2006
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امور الدين
JALAN KESEMPURNAAN SPIRITUAL & TAQARRUB KEPADA ALLAH
Nasruddin Latief [1]
Di dalam upaya mendekatkan diri dan taqarrub kepada Allah dalam rangka menyempurnakan jiwa menuju kesempurnaan spiritual kepada-Nya dapat ditempuh oleh para salik (pencari jalan kebenaran) beberapa jalan. Diantara jalan-jalan tersebut antara lain:Mengingat Allah (Zikrullah) Banyak membaca do’a Mengamalkan fadha’il A’mal Membangun Akhlak KarimahBerjihad dan SyahadahIhsan dan pengabdian yang tulus
Jalan Pertama: Zikrullah (Mengingat Allah)Jalan pertama yang harus ditempuh para salik adalah Zikrullah (sikap mengingat Allah). Tujuan dari zikrullah ini adalah meraih cinta-Nya. Jalan ini merupakan elemen paling dasar bagi para salikin. Karena pada tahap ini dia akan melepaskan diri dari alam materi menuju alam yang lebih tinggi yaitu alam kesucian dan nurani. Zikir merupakan ruhaniyah ibadah, karena setiap ibadah diukur dengan ketawajuhhan hamba kepada Allah. Karena Allah menjanjikan orang yang senantiasa zikir kepada-Nya, baik laki-laki maupun perempuan akan diberikan maghfirah dan pahala yang besar. Firmanya : والذاكرين الله كثيرا والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما . الأحزاب : 35 . (Dan orang-orang yang senantiasa ingat kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, Allah telah menyiapkan bag mereka maghfirah (ampunan) dan ganjaran yang besar). Q.s., al-Ahzab (33:35)Zikir secara etimologis bermakna ‘ingat’. Ingat ada kalanya dengan hati atau dengan lisan, ingat dari kealpaan, juga sikap menjaga segala sesuatu dalam ingatan. Oleh karena itu ‘ingat kepada Allah’ merupakan lawan dari ‘lupa kepada-Nya’. Allah berfirman: ‘Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa’. (Q.s., al-Kahf, 18:24). واذكر ربك اذا نسيت . Diantara zikir yang ringan disisi manusia tapi berat (ganjarannya) dan sangat disukai di sisi Allah ialah ‘سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم’ . Teks lengkapnya : ‘ كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان فى الميزان حبيبتان الى الرحمن سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم . (Hadist)Di dalam zikir (ingat) kepada Allah, paling tidak melibatkan tiga unsur, yaitu yang mengingat (subjek), yang diingat (objek) dan aktifitas mengingat. Unsur pertama, yang mengingat sebagai subjek (zakir) adalah pelaku zikir. Setiap orang beriman dituntut untuk selalu ingat kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya. Misalnya dijelaskan dalam firmannya, Q.s., al-Ahzab, 33:41-43): يأيها الذين ءامنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا ، وسبحوه بكرة وأصيلا ، هو الذى يصلى عليكم وملئكتُه ليخرجكم من الظلمات الى النور وكان بالمؤمنين رحيما . “Hai, orang-orang beriman, ingatlah kepada Tuhanmu sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah pagi dan petang. Dia (Allah) dan para malaikatnya bershalawat kepadamu yang telah mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada kecahayaan Dia (Allah) Maha Kasih Sayang kepada orang-orang beriman’. Dalam ayt lain Allah berfirman : وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين . (Dan ingatlah (akan Tuhanmu), karena sesungguhnya ingat kepada Tuhan amat bermanfaat bagi orang-orang Mu’min). Q.s., al-Dzariyat (51:55). Dan dalam surah al-Baqarah (2:152): فاذكرونى أذكركم واشكروا لى ولا تكفرون (Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu menjadi kaum pengingkar). Q.s., al-Baqarah (2:152).Antara subjek dan objek zikir ada saling ketergantungan antara subjek akan objeknya. Karena objek yang diingat Allah Maha Agung, Maha Pengayom dirinya. Oleh karena makna tawajjuh dan kehadiran objek senantiasa melekat di dalam dada subjek (zakir), sehingga ada rasa kerinduan yang mendalam pada dirinya (subjek). Sedangkan aktifitas zikir sendiri medianya bermacam-macam. Ada yang dikenal zikir lisani dan jahri, yaitu pelafalan lafaz zikir dengan suara lantang, dan ada pula zikir sirri (qalbi), yaitu zikir yang dibaca dengan perasaan kekhusyu`an.Zikir banyak sekali faedahnya. Menurut Imam Ghazali bagi orang yang konsisiten melakukan zikir akan mendapat empat buah faedah. Pertama, dia akan diberikan jalan, kalau tidak, ia akan sesat. Kedua, akan diberikan ilmu untuk pengamalan. Kalau tidak, ia akan terhijab. Ketiga, ia akan diberikan keikhlasan dalam beramal. Kalau tidak, maka ia akan rugi, dan keempat, ia akan diberikan rasa aman dan dihindari dari segala bencana. Kalau tidak, maka ia menjadi sombong. (Azkar al-Abrar, 104).Jalan Kedua: Banyak Membaca DoaJalan kedua adalah memperbanyak membaca doa. Doa bagi kebanyakan manusia merupakan hal yang sepele. Tapi tidak demikian dimata Allah. Allah akan marah kepada hambanya yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Barangkali masalahnya apakah kita telah benar-benar berdoa atau hanya sekedar membaca doa? Secara tidak sadar bahwa kita selama ini baru pada tahap membaca doa, belum sampai pada makna substansial dari berdoa. Sehingga kita merasa bahwa doa kita tidak pernah dikabulkan oleh Allah. Padahal Allah telah menjanjikan akan mengabulkan doa hambanya. وإذا سألك عبادى عنى فإنى قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لى وليؤمنوا بى لعلهم يرشدون . (Apabila hambaku bertanya tentangku, maka sesungguhnya aku ini dekat. Aku akan mengabulkan doa para pendoa apabila dia berdoa, maka mintalah jawaban padaku dan percayalah, agar kamu mendapat petunjuk). Q.s., al-Baqarah (2:186)Di dalam berdoa ada syarat-syarat tertentu agar doa kita dikabulkan oleh Allah. Pertama adalah keadaan suci dari hadas. Artinya ketika seseorang hendak berdoa harus suci dirinya dari hadas. Suci dari hadas ini merupakan unsur paling elementer, sedangkan tingkatan yang lebih tinggi adalah suci hati dan rohani; Kedua, taubat. Taubat merupakan syarat agar doa kita diterima Allah. Karena Allah tidak menerima doa orang yang bergelimang dosa. Taubat yang diterima apabila meliputi tiga hal. (i) menyesal atas dosa dan maksiat yang telah diperbuat pada masa lalu, (ii) berniat tidak akan mengulangi perbuatan dosa dan maksiat di masa mendatang dan (iii) meninggalkan perbuatan dosa sekarang dan akan datang. Imam Ali berkata mengenai taubat : التقوى هى خوف الجليل والعمل بالتنزيل والإستعداد ليوم الرحيل . Dan Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan selalu suci . إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين . Q.s., al-Baqarah (2:222). Ketiga membuka dan menutup doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasul-Nya (Muhammad s.a.w.). Diriwayatkan dalam sabda Nabi s.a.w. bahwa setiap doa akan terhijab (tertutup) bagi Allah sehingga dibacakan shalawat atasku dan keluaragku’. Keempat menghadap kiblat. Menghadap kiblat ini merupakan adab dalam dalam berdoa. Kelima mengangkat kedua tangan dan mengusapkan ke wajah ketika selesai berdoa. Sikap ini juga merupakan adab dalam berdoa, karena Nabi berpesan bahwa Allah itu Maha Hidup dan Maha Dermawan. Dia tidak sampai hati menolak doa hambanya yang memohon sambil menengadahkan tangan’. Keenam, melirihkan suara antara berbisik dan menangis (munajat) dan khusyu’. Dalam berdoa pun dituntut sikap khusyu’ agar doa kita dikabul. Pesan Allah dalam firmannya : ادعوا ربكم تضرعا وخفية انه لا يحب المعتدين ‘Berdoalah kepada Tuhanmu dengan khusyu’ dan merendahkan suara (lirih). Sesungguhnya Dia tidak suka orang-orang yang melampaui batas. Q.s., al-A1raf (7:55). Keenam, tidak memutuskan tali silaturahim. Nabi bersabda: Silaturahim itu tergantung di Arasy berkata: Siapa yang menyambung denganku Allah akan menyambungnya, dan siapa yang memutuskanku, Allah juga pasti akan memutuskannya. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الرحم معلقة بالعرش تقول من وصلنى وصله الله ومن قطعنى قطعه الله . . Dalam sabda yang lain disebutkan : أفشوا السلام وصلوا الأرحام وأطعموا الطعام وألينوا الكلام وصلوا بالليل والناس نيام ، تدخلون الجنة بالسلام . . “Berilah salam (kepada siapa saja) [sebarkanlah perdamaian], sambungkan silaturhim, berilah makan, sopanlah dalam berbicara dan shalatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, kau akan masuk surga dengan salam (damai)’. Dalam sabda yang lain : ‘ من سره أن يوسّع عليه فى رزقه وأن يبارك فى عمره فليصل رحمه . Siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan diberkati umurnya, maka jagalah silaturahim’.Jalan ketiga : Memperbanyak Fadlailul A`malJalan ketiga adalah dengan memperbanyak fadlailul A`mal. Fadlailul A`mal adalah amal-amal perbuatan yang utama. Dalam kategori ini adalah amal-amal perbuatan sunat, seperti shalat, puasa dan lain-lain sebagainya. Al-Qur’an memberikan semangat bagi para salikin dengan janji akan memberikan mereka ‘posisi yang terpuji’ apabila secara konsisten melakukan shalat sunat. Misalnya digambarkan dalam surah al-Isra (17: 78): ومن اليل فتهجد به نافلة لك عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا . Walaupun ayat ini memberikan pengertian pada shalat tahajjud, akan tetapi masuk ke dalam kategori ibadah sunat pada umumnya yang dilakukan secara istiqamah dan berkesinambungan. Oleh karena itu fadhail A`mal ini dapat dijadikan jalan menuju taqarrub kepada Allah s.w.t.Imam Ghazali memberikan pemaparan yang cukup mengesankan mengenai hal ini dalam bukunya ‘Bidayah al-Hidayah’, bahwa seorang hamba haknya terhadap agama ada tiga. Yang pertama adalah ‘Salim’ (Selamat), yaitu orang yang hanya melakukan ibadah wajib saja. Kedua, Rabih (Beruntung), yaitu orang yang dapat taqarrub kepad Allah dengan melakukan ibadah-ibadah sunat, dan ketiga Khasir (rugi), yaitu orang yang tidak dapat melaksanakan kewajiban, apalagi ibadah-ibadah sunat. Kalau tidak dapat pada tingkatan Rabih (beruntung), usahakan tetap pada tingkat Salim (Selamat). Dan jangan sampai jatuh terjerumus pada tingkat Khasir (Rugi).Sedangkan masalah adab mempersiapkan seluruh shalat ia menulis hendaknya seseorang mempersiapkan diri untuk shalat zuhur sebelum matahari tergelincir, kemudian berwudlu dan bersiap-siap berangkat ke masjid, lalu shalat tahiyyatul masjid. Setelah azan lakukan shalat sunat ‘qabliyah zuhur’ empat rakaat dan kemudian shalat zuhur berjamaah. Setelah itu shalat sunat ‘ba’diyah zuhur’ juga empat raka`at. Setelah itu pergunakan waktu untuk mengkaji dan membaca al-Qur’an sampai masuk waktu ashar. Lakukan shalat sunat ‘qabliyah ashar’ empat rakaat dan shalat ashar berjamaah. Dan begitu seterusnya sampai selesai shalat isya. Jangan tinggalkan tempat sebelum menutup shalat kamu dengan shalat witir. (hal. 312-314).Jalan Keempat: Membangun Akhlak Mulia (Karimah)Jalan ketiga adalah membangun akhlak mulia. Akhlak mulia ini sebagaimana disabdakan Nabi merupakan alasan dan sebab-sebab diutusnya beliau membawa risalah Islam. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق . dan kesaksian Aisyah mengenai akhlak Nabi yang sebenarnya adalah al-Qur’an. Oleh karena itu membangun akhlak mulia adalah membangun kandungan dan isi al-Qur’an sebagai sumber ajaran normatif dalam kehidupan sehari-hari.Jalan Kelima: Berjihad dan SyahadahJalan kelima adalah berjihad. Jihad secara etimologis artinya ‘berusaha sungguh-sungguh dan sekuat tenaga’. Bidang jihad secara umum terbagi kepada 4 kategori. Pertama, jihad terhadap hawa nafsu, jihad terhadap keluarga, jihad terhadap penyimpangan lingkungan, dan jihad kepada penguasa yang zalim. Yang dimaksud dengan jihad hawa nafsu adalah jihad melawan waswas dan biskan syetan dan memegang teguh ajaran agama. Sedangkan jihad terhadap keluarga ialah jihad menjaga mereka dari setiap infiltrasi luar yang menyimpang dan bertentangan dengan ajaran agama. Sedangkan jihad terhadap masyarakat ialah tidak menyebarluaskan perbuatan keji dan amoral pada mereka. Adapun jihad terhadap penguasa yang zalim ialah memberikan nasehat dan perbaikan kepada hal-hal yang lebih baik. Diantara jihad-jihad tersebut yang terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu, sesuai dengan sabda Nabi s.a.w. : أفضل الجهاد أن تجاهد نفسك وهواك فى ذات الله عز وجل . (Sebaik jihad adalah jihad terhadap nafsu dan keinginan kamu terhadap zat Allah).Jalan Keenam: Ihsan dan Pengabdian yang TulusJalan keenam adalah jalan ihsan dan pengabdian yang tulus. Ihsan adalah tingkat tertinggi dalam perjalanan spiritual manusia, setelah melalui jalan syariat dan iman. Maqam ihsan ini merupakan terminal terakhir perjalanan hidup seorang salik. Pada maqam ini yang berbicara bukan lagi dimensi fisik, tetapi dimensi nurani yang berperan dalam memberikan petunjuk seorang hamba. Oleh karena itu hadis Nabi s.a.w. menjelaskan mengenai ihsan dalam ibadah ialah ‘seakan-akan kamu melihat Allah, apabila kamu tidak melihatnya, yakinlah bahwa Allah pasti melihat (perbuatan) kamu’. أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك .Sesorang yang telah mencapai maqam ihsan ini akan dapat merasakan kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam dirinya, karena ihsan merupakan puncak keimanan –demikian Ibn Qayyim – menyebutnya. Seorang Muhsin adalah orang yang merasakan kehadiran Allah dalam hatinya.Rujukan:Abu Hami Al-Ghazali, Bidayah al-Hidayah, dalam ‘Minhaj al-`Abidin’, Mesir: Maktabahal-Gundi, 1972.Rauf Syalabi, Al-Jihad fi al-Islam, Manhaj wa Tathbiq, Mesir: Silsilah al-Buhust al-Islamiyah, 1980.Fawzi M. Abu Zayd, Azkar al-Abrar, Mesir: Dar al-Iman wa al-Hayat, 2000.Yunasril Ali, Jalan Kearifan Sufi, Jakarta: Serambi, 2002Nasruddin Latief[1] . Disampaikan pada Kajian Pusat Studi Islam Paramadina, tema: Risalah Tasawuf: Kajian tentang Tingkatan Jiwa dan Pensuciannya, Jakarta, 21 Agustus 2003.
JALAN KESEMPURNAAN SPIRITUAL & TAQARRUB KEPADA ALLAH
Nasruddin Latief [1]
Di dalam upaya mendekatkan diri dan taqarrub kepada Allah dalam rangka menyempurnakan jiwa menuju kesempurnaan spiritual kepada-Nya dapat ditempuh oleh para salik (pencari jalan kebenaran) beberapa jalan. Diantara jalan-jalan tersebut antara lain:Mengingat Allah (Zikrullah) Banyak membaca do’a Mengamalkan fadha’il A’mal Membangun Akhlak KarimahBerjihad dan SyahadahIhsan dan pengabdian yang tulus
Jalan Pertama: Zikrullah (Mengingat Allah)Jalan pertama yang harus ditempuh para salik adalah Zikrullah (sikap mengingat Allah). Tujuan dari zikrullah ini adalah meraih cinta-Nya. Jalan ini merupakan elemen paling dasar bagi para salikin. Karena pada tahap ini dia akan melepaskan diri dari alam materi menuju alam yang lebih tinggi yaitu alam kesucian dan nurani. Zikir merupakan ruhaniyah ibadah, karena setiap ibadah diukur dengan ketawajuhhan hamba kepada Allah. Karena Allah menjanjikan orang yang senantiasa zikir kepada-Nya, baik laki-laki maupun perempuan akan diberikan maghfirah dan pahala yang besar. Firmanya : والذاكرين الله كثيرا والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما . الأحزاب : 35 . (Dan orang-orang yang senantiasa ingat kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, Allah telah menyiapkan bag mereka maghfirah (ampunan) dan ganjaran yang besar). Q.s., al-Ahzab (33:35)Zikir secara etimologis bermakna ‘ingat’. Ingat ada kalanya dengan hati atau dengan lisan, ingat dari kealpaan, juga sikap menjaga segala sesuatu dalam ingatan. Oleh karena itu ‘ingat kepada Allah’ merupakan lawan dari ‘lupa kepada-Nya’. Allah berfirman: ‘Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa’. (Q.s., al-Kahf, 18:24). واذكر ربك اذا نسيت . Diantara zikir yang ringan disisi manusia tapi berat (ganjarannya) dan sangat disukai di sisi Allah ialah ‘سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم’ . Teks lengkapnya : ‘ كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان فى الميزان حبيبتان الى الرحمن سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم . (Hadist)Di dalam zikir (ingat) kepada Allah, paling tidak melibatkan tiga unsur, yaitu yang mengingat (subjek), yang diingat (objek) dan aktifitas mengingat. Unsur pertama, yang mengingat sebagai subjek (zakir) adalah pelaku zikir. Setiap orang beriman dituntut untuk selalu ingat kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya. Misalnya dijelaskan dalam firmannya, Q.s., al-Ahzab, 33:41-43): يأيها الذين ءامنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا ، وسبحوه بكرة وأصيلا ، هو الذى يصلى عليكم وملئكتُه ليخرجكم من الظلمات الى النور وكان بالمؤمنين رحيما . “Hai, orang-orang beriman, ingatlah kepada Tuhanmu sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah pagi dan petang. Dia (Allah) dan para malaikatnya bershalawat kepadamu yang telah mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada kecahayaan Dia (Allah) Maha Kasih Sayang kepada orang-orang beriman’. Dalam ayt lain Allah berfirman : وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين . (Dan ingatlah (akan Tuhanmu), karena sesungguhnya ingat kepada Tuhan amat bermanfaat bagi orang-orang Mu’min). Q.s., al-Dzariyat (51:55). Dan dalam surah al-Baqarah (2:152): فاذكرونى أذكركم واشكروا لى ولا تكفرون (Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu menjadi kaum pengingkar). Q.s., al-Baqarah (2:152).Antara subjek dan objek zikir ada saling ketergantungan antara subjek akan objeknya. Karena objek yang diingat Allah Maha Agung, Maha Pengayom dirinya. Oleh karena makna tawajjuh dan kehadiran objek senantiasa melekat di dalam dada subjek (zakir), sehingga ada rasa kerinduan yang mendalam pada dirinya (subjek). Sedangkan aktifitas zikir sendiri medianya bermacam-macam. Ada yang dikenal zikir lisani dan jahri, yaitu pelafalan lafaz zikir dengan suara lantang, dan ada pula zikir sirri (qalbi), yaitu zikir yang dibaca dengan perasaan kekhusyu`an.Zikir banyak sekali faedahnya. Menurut Imam Ghazali bagi orang yang konsisiten melakukan zikir akan mendapat empat buah faedah. Pertama, dia akan diberikan jalan, kalau tidak, ia akan sesat. Kedua, akan diberikan ilmu untuk pengamalan. Kalau tidak, ia akan terhijab. Ketiga, ia akan diberikan keikhlasan dalam beramal. Kalau tidak, maka ia akan rugi, dan keempat, ia akan diberikan rasa aman dan dihindari dari segala bencana. Kalau tidak, maka ia menjadi sombong. (Azkar al-Abrar, 104).Jalan Kedua: Banyak Membaca DoaJalan kedua adalah memperbanyak membaca doa. Doa bagi kebanyakan manusia merupakan hal yang sepele. Tapi tidak demikian dimata Allah. Allah akan marah kepada hambanya yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Barangkali masalahnya apakah kita telah benar-benar berdoa atau hanya sekedar membaca doa? Secara tidak sadar bahwa kita selama ini baru pada tahap membaca doa, belum sampai pada makna substansial dari berdoa. Sehingga kita merasa bahwa doa kita tidak pernah dikabulkan oleh Allah. Padahal Allah telah menjanjikan akan mengabulkan doa hambanya. وإذا سألك عبادى عنى فإنى قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لى وليؤمنوا بى لعلهم يرشدون . (Apabila hambaku bertanya tentangku, maka sesungguhnya aku ini dekat. Aku akan mengabulkan doa para pendoa apabila dia berdoa, maka mintalah jawaban padaku dan percayalah, agar kamu mendapat petunjuk). Q.s., al-Baqarah (2:186)Di dalam berdoa ada syarat-syarat tertentu agar doa kita dikabulkan oleh Allah. Pertama adalah keadaan suci dari hadas. Artinya ketika seseorang hendak berdoa harus suci dirinya dari hadas. Suci dari hadas ini merupakan unsur paling elementer, sedangkan tingkatan yang lebih tinggi adalah suci hati dan rohani; Kedua, taubat. Taubat merupakan syarat agar doa kita diterima Allah. Karena Allah tidak menerima doa orang yang bergelimang dosa. Taubat yang diterima apabila meliputi tiga hal. (i) menyesal atas dosa dan maksiat yang telah diperbuat pada masa lalu, (ii) berniat tidak akan mengulangi perbuatan dosa dan maksiat di masa mendatang dan (iii) meninggalkan perbuatan dosa sekarang dan akan datang. Imam Ali berkata mengenai taubat : التقوى هى خوف الجليل والعمل بالتنزيل والإستعداد ليوم الرحيل . Dan Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan selalu suci . إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين . Q.s., al-Baqarah (2:222). Ketiga membuka dan menutup doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasul-Nya (Muhammad s.a.w.). Diriwayatkan dalam sabda Nabi s.a.w. bahwa setiap doa akan terhijab (tertutup) bagi Allah sehingga dibacakan shalawat atasku dan keluaragku’. Keempat menghadap kiblat. Menghadap kiblat ini merupakan adab dalam dalam berdoa. Kelima mengangkat kedua tangan dan mengusapkan ke wajah ketika selesai berdoa. Sikap ini juga merupakan adab dalam berdoa, karena Nabi berpesan bahwa Allah itu Maha Hidup dan Maha Dermawan. Dia tidak sampai hati menolak doa hambanya yang memohon sambil menengadahkan tangan’. Keenam, melirihkan suara antara berbisik dan menangis (munajat) dan khusyu’. Dalam berdoa pun dituntut sikap khusyu’ agar doa kita dikabul. Pesan Allah dalam firmannya : ادعوا ربكم تضرعا وخفية انه لا يحب المعتدين ‘Berdoalah kepada Tuhanmu dengan khusyu’ dan merendahkan suara (lirih). Sesungguhnya Dia tidak suka orang-orang yang melampaui batas. Q.s., al-A1raf (7:55). Keenam, tidak memutuskan tali silaturahim. Nabi bersabda: Silaturahim itu tergantung di Arasy berkata: Siapa yang menyambung denganku Allah akan menyambungnya, dan siapa yang memutuskanku, Allah juga pasti akan memutuskannya. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الرحم معلقة بالعرش تقول من وصلنى وصله الله ومن قطعنى قطعه الله . . Dalam sabda yang lain disebutkan : أفشوا السلام وصلوا الأرحام وأطعموا الطعام وألينوا الكلام وصلوا بالليل والناس نيام ، تدخلون الجنة بالسلام . . “Berilah salam (kepada siapa saja) [sebarkanlah perdamaian], sambungkan silaturhim, berilah makan, sopanlah dalam berbicara dan shalatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, kau akan masuk surga dengan salam (damai)’. Dalam sabda yang lain : ‘ من سره أن يوسّع عليه فى رزقه وأن يبارك فى عمره فليصل رحمه . Siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan diberkati umurnya, maka jagalah silaturahim’.Jalan ketiga : Memperbanyak Fadlailul A`malJalan ketiga adalah dengan memperbanyak fadlailul A`mal. Fadlailul A`mal adalah amal-amal perbuatan yang utama. Dalam kategori ini adalah amal-amal perbuatan sunat, seperti shalat, puasa dan lain-lain sebagainya. Al-Qur’an memberikan semangat bagi para salikin dengan janji akan memberikan mereka ‘posisi yang terpuji’ apabila secara konsisten melakukan shalat sunat. Misalnya digambarkan dalam surah al-Isra (17: 78): ومن اليل فتهجد به نافلة لك عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا . Walaupun ayat ini memberikan pengertian pada shalat tahajjud, akan tetapi masuk ke dalam kategori ibadah sunat pada umumnya yang dilakukan secara istiqamah dan berkesinambungan. Oleh karena itu fadhail A`mal ini dapat dijadikan jalan menuju taqarrub kepada Allah s.w.t.Imam Ghazali memberikan pemaparan yang cukup mengesankan mengenai hal ini dalam bukunya ‘Bidayah al-Hidayah’, bahwa seorang hamba haknya terhadap agama ada tiga. Yang pertama adalah ‘Salim’ (Selamat), yaitu orang yang hanya melakukan ibadah wajib saja. Kedua, Rabih (Beruntung), yaitu orang yang dapat taqarrub kepad Allah dengan melakukan ibadah-ibadah sunat, dan ketiga Khasir (rugi), yaitu orang yang tidak dapat melaksanakan kewajiban, apalagi ibadah-ibadah sunat. Kalau tidak dapat pada tingkatan Rabih (beruntung), usahakan tetap pada tingkat Salim (Selamat). Dan jangan sampai jatuh terjerumus pada tingkat Khasir (Rugi).Sedangkan masalah adab mempersiapkan seluruh shalat ia menulis hendaknya seseorang mempersiapkan diri untuk shalat zuhur sebelum matahari tergelincir, kemudian berwudlu dan bersiap-siap berangkat ke masjid, lalu shalat tahiyyatul masjid. Setelah azan lakukan shalat sunat ‘qabliyah zuhur’ empat rakaat dan kemudian shalat zuhur berjamaah. Setelah itu shalat sunat ‘ba’diyah zuhur’ juga empat raka`at. Setelah itu pergunakan waktu untuk mengkaji dan membaca al-Qur’an sampai masuk waktu ashar. Lakukan shalat sunat ‘qabliyah ashar’ empat rakaat dan shalat ashar berjamaah. Dan begitu seterusnya sampai selesai shalat isya. Jangan tinggalkan tempat sebelum menutup shalat kamu dengan shalat witir. (hal. 312-314).Jalan Keempat: Membangun Akhlak Mulia (Karimah)Jalan ketiga adalah membangun akhlak mulia. Akhlak mulia ini sebagaimana disabdakan Nabi merupakan alasan dan sebab-sebab diutusnya beliau membawa risalah Islam. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق . dan kesaksian Aisyah mengenai akhlak Nabi yang sebenarnya adalah al-Qur’an. Oleh karena itu membangun akhlak mulia adalah membangun kandungan dan isi al-Qur’an sebagai sumber ajaran normatif dalam kehidupan sehari-hari.Jalan Kelima: Berjihad dan SyahadahJalan kelima adalah berjihad. Jihad secara etimologis artinya ‘berusaha sungguh-sungguh dan sekuat tenaga’. Bidang jihad secara umum terbagi kepada 4 kategori. Pertama, jihad terhadap hawa nafsu, jihad terhadap keluarga, jihad terhadap penyimpangan lingkungan, dan jihad kepada penguasa yang zalim. Yang dimaksud dengan jihad hawa nafsu adalah jihad melawan waswas dan biskan syetan dan memegang teguh ajaran agama. Sedangkan jihad terhadap keluarga ialah jihad menjaga mereka dari setiap infiltrasi luar yang menyimpang dan bertentangan dengan ajaran agama. Sedangkan jihad terhadap masyarakat ialah tidak menyebarluaskan perbuatan keji dan amoral pada mereka. Adapun jihad terhadap penguasa yang zalim ialah memberikan nasehat dan perbaikan kepada hal-hal yang lebih baik. Diantara jihad-jihad tersebut yang terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu, sesuai dengan sabda Nabi s.a.w. : أفضل الجهاد أن تجاهد نفسك وهواك فى ذات الله عز وجل . (Sebaik jihad adalah jihad terhadap nafsu dan keinginan kamu terhadap zat Allah).Jalan Keenam: Ihsan dan Pengabdian yang TulusJalan keenam adalah jalan ihsan dan pengabdian yang tulus. Ihsan adalah tingkat tertinggi dalam perjalanan spiritual manusia, setelah melalui jalan syariat dan iman. Maqam ihsan ini merupakan terminal terakhir perjalanan hidup seorang salik. Pada maqam ini yang berbicara bukan lagi dimensi fisik, tetapi dimensi nurani yang berperan dalam memberikan petunjuk seorang hamba. Oleh karena itu hadis Nabi s.a.w. menjelaskan mengenai ihsan dalam ibadah ialah ‘seakan-akan kamu melihat Allah, apabila kamu tidak melihatnya, yakinlah bahwa Allah pasti melihat (perbuatan) kamu’. أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك .Sesorang yang telah mencapai maqam ihsan ini akan dapat merasakan kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam dirinya, karena ihsan merupakan puncak keimanan –demikian Ibn Qayyim – menyebutnya. Seorang Muhsin adalah orang yang merasakan kehadiran Allah dalam hatinya.Rujukan:Abu Hami Al-Ghazali, Bidayah al-Hidayah, dalam ‘Minhaj al-`Abidin’, Mesir: Maktabahal-Gundi, 1972.Rauf Syalabi, Al-Jihad fi al-Islam, Manhaj wa Tathbiq, Mesir: Silsilah al-Buhust al-Islamiyah, 1980.Fawzi M. Abu Zayd, Azkar al-Abrar, Mesir: Dar al-Iman wa al-Hayat, 2000.Yunasril Ali, Jalan Kearifan Sufi, Jakarta: Serambi, 2002Nasruddin Latief[1] . Disampaikan pada Kajian Pusat Studi Islam Paramadina, tema: Risalah Tasawuf: Kajian tentang Tingkatan Jiwa dan Pensuciannya, Jakarta, 21 Agustus 2003.
Bagaimana Tidak Bangkrut
BAGAIMANA TIDAK BANGKRUT“
Hukum di Indonesia tidak lagi dalam posisi dimuliakan, tetapi dijadikan alat kejahatan. Kelihatannya janggal, tapi seperti inilah kenyataannya. Kualitas hokum di Indonesia merosok hingga ke titik terendah”. Tb Ronny Rahman Nitibaskara
Moral, moral, moral…. Begitulah yang selalu Prof. Dr. Nurcholish Madjid (biasa dikenal Cak Nur) dengungkan dalam berbagai kesempatan. Bahkan beliau selalu mensitir sabda Nabi yang mengatakan bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang mempunyai moral.Membaca headline berita Koran Kompas (Sabtu, 26 Nopember 2005) yang memberitakan bahwa gaji/tunjangan Wakil Presiden Rp. 167,7 juta perbulan atau 2 miliar pertahun atau 200 kali lipat upah minimum regional atau setengah tahun kali lipat. Masya Allah.Bagaimana Indonesia tidak akan bangkrut bila pejabatnya dari tingkat tertinggi terus bawahan Menteri, anggota DPR, pejabat daerah sampai tingkat RW/RT tidak mempunyai sense of crisis. Ada argumen yang dapat diajukan bahwa apa yang dilakukan sesuai dengan anggaran. Tapi anggaran kan juga mereka yang buat. Kongkalikong antara pembuat anggaran dengan si kepingin anggaran juga mudah dibuat-buat. Bahkan setiap tahun kita melihat pemandangan aneh bin ajaib di negeri mayoritas Muslim ini apabila pada akhir tahun banyak pengerjaan proyek dan lain-lain, yang katanya menghabiskan anggaran. Tapi menghabiskan anggaran tanpa rencana yang jelas. Kelihatannya asal dikerjakan, bahkan yang tidak perlu dikerjakan. Misalnya, jalan yang asalnya bagus dan baik. Dirusak dan dibongkar, dibuat pagar dan macam-macam agar lebih baik. Padahal paagr tersebut tidak diperlukan amat dan penting. Inilah logika pembesar kita. Yang penting habiskan anggaran.Barangkali kita harus belajar pada Negara tetangga kita, Brunei Darussalam, yang kaya raya, tapi dalam perjalanan program kerja di semua bidang dan departemen, tidak ada keharusan menghabiskan seluruh anggaran, dengan konsep ‘yang penting anggaran habis’. Bila ada sisa anggaran yah tidak perlu dihabiskan dan dikembalikan ke kas negara.Barangkali inikah yang namanya korupsi jamaah. Bukan shalat jamaah atau berbuat kebaikan jamaah. Tapi membuat kerusakan jamaah. Bagaimana nasib generasi yang akan datang bangsa ini. Guru bangsa dan orang-orang baik satu persatu dipanggil Allah swt. Bila semua mereka sudah tiada, yang tersisa hanya orang-orang yang rakus bak serigala dan singa lapar. Binasalah umat. Inilah keadaan yang Allah tegaskan dalam Al-Aur’an.
Hukum di Indonesia tidak lagi dalam posisi dimuliakan, tetapi dijadikan alat kejahatan. Kelihatannya janggal, tapi seperti inilah kenyataannya. Kualitas hokum di Indonesia merosok hingga ke titik terendah”. Tb Ronny Rahman Nitibaskara
Moral, moral, moral…. Begitulah yang selalu Prof. Dr. Nurcholish Madjid (biasa dikenal Cak Nur) dengungkan dalam berbagai kesempatan. Bahkan beliau selalu mensitir sabda Nabi yang mengatakan bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang mempunyai moral.Membaca headline berita Koran Kompas (Sabtu, 26 Nopember 2005) yang memberitakan bahwa gaji/tunjangan Wakil Presiden Rp. 167,7 juta perbulan atau 2 miliar pertahun atau 200 kali lipat upah minimum regional atau setengah tahun kali lipat. Masya Allah.Bagaimana Indonesia tidak akan bangkrut bila pejabatnya dari tingkat tertinggi terus bawahan Menteri, anggota DPR, pejabat daerah sampai tingkat RW/RT tidak mempunyai sense of crisis. Ada argumen yang dapat diajukan bahwa apa yang dilakukan sesuai dengan anggaran. Tapi anggaran kan juga mereka yang buat. Kongkalikong antara pembuat anggaran dengan si kepingin anggaran juga mudah dibuat-buat. Bahkan setiap tahun kita melihat pemandangan aneh bin ajaib di negeri mayoritas Muslim ini apabila pada akhir tahun banyak pengerjaan proyek dan lain-lain, yang katanya menghabiskan anggaran. Tapi menghabiskan anggaran tanpa rencana yang jelas. Kelihatannya asal dikerjakan, bahkan yang tidak perlu dikerjakan. Misalnya, jalan yang asalnya bagus dan baik. Dirusak dan dibongkar, dibuat pagar dan macam-macam agar lebih baik. Padahal paagr tersebut tidak diperlukan amat dan penting. Inilah logika pembesar kita. Yang penting habiskan anggaran.Barangkali kita harus belajar pada Negara tetangga kita, Brunei Darussalam, yang kaya raya, tapi dalam perjalanan program kerja di semua bidang dan departemen, tidak ada keharusan menghabiskan seluruh anggaran, dengan konsep ‘yang penting anggaran habis’. Bila ada sisa anggaran yah tidak perlu dihabiskan dan dikembalikan ke kas negara.Barangkali inikah yang namanya korupsi jamaah. Bukan shalat jamaah atau berbuat kebaikan jamaah. Tapi membuat kerusakan jamaah. Bagaimana nasib generasi yang akan datang bangsa ini. Guru bangsa dan orang-orang baik satu persatu dipanggil Allah swt. Bila semua mereka sudah tiada, yang tersisa hanya orang-orang yang rakus bak serigala dan singa lapar. Binasalah umat. Inilah keadaan yang Allah tegaskan dalam Al-Aur’an.
Jalan Kesempurnaan Spiritual
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امور الدينJALAN KESEMPURNAAN SPIRITUAL & TAQARRUB KEPADA ALLAHNasruddin Latief [1]Di dalam upaya mendekatkan diri dan taqarrub kepada Allah dalam rangka menyempurnakan jiwa menuju kesempurnaan spiritual kepada-Nya dapat ditempuh oleh para salik (pencari jalan kebenaran) beberapa jalan. Diantara jalan-jalan tersebut antara lain:Mengingat Allah (Zikrullah)Banyak membaca do’aMengamalkan fadha’il A’malMembangun Akhlak KarimahBerjihad dan SyahadahIhsan dan pengabdian yang tulusJalan Pertama: Zikrullah (Mengingat Allah)Jalan pertama yang harus ditempuh para salik adalah Zikrullah (sikap mengingat Allah). Tujuan dari zikrullah ini adalah meraih cinta-Nya. Jalan ini merupakan elemen paling dasar bagi para salikin. Karena pada tahap ini dia akan melepaskan diri dari alam materi menuju alam yang lebih tinggi yaitu alam kesucian dan nurani. Zikir merupakan ruhaniyah ibadah, karena setiap ibadah diukur dengan ketawajuhhan hamba kepada Allah. Karena Allah menjanjikan orang yang senantiasa zikir kepada-Nya, baik laki-laki maupun perempuan akan diberikan maghfirah dan pahala yang besar. Firmanya : والذاكرين الله كثيرا والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما . الأحزاب : 35 . (Dan orang-orang yang senantiasa ingat kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, Allah telah menyiapkan bag mereka maghfirah (ampunan) dan ganjaran yang besar). Q.s., al-Ahzab (33:35)Zikir secara etimologis bermakna ‘ingat’. Ingat ada kalanya dengan hati atau dengan lisan, ingat dari kealpaan, juga sikap menjaga segala sesuatu dalam ingatan. Oleh karena itu ‘ingat kepada Allah’ merupakan lawan dari ‘lupa kepada-Nya’. Allah berfirman: ‘Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa’. (Q.s., al-Kahf, 18:24). واذكر ربك اذا نسيت . Diantara zikir yang ringan disisi manusia tapi berat (ganjarannya) dan sangat disukai di sisi Allah ialah ‘سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم’ . Teks lengkapnya : ‘ كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان فى الميزان حبيبتان الى الرحمن سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم . (Hadist)Di dalam zikir (ingat) kepada Allah, paling tidak melibatkan tiga unsur, yaitu yang mengingat (subjek), yang diingat (objek) dan aktifitas mengingat. Unsur pertama, yang mengingat sebagai subjek (zakir) adalah pelaku zikir. Setiap orang beriman dituntut untuk selalu ingat kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya. Misalnya dijelaskan dalam firmannya, Q.s., al-Ahzab, 33:41-43): يأيها الذين ءامنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا ، وسبحوه بكرة وأصيلا ، هو الذى يصلى عليكم وملئكتُه ليخرجكم من الظلمات الى النور وكان بالمؤمنين رحيما . “Hai, orang-orang beriman, ingatlah kepada Tuhanmu sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah pagi dan petang. Dia (Allah) dan para malaikatnya bershalawat kepadamu yang telah mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada kecahayaan Dia (Allah) Maha Kasih Sayang kepada orang-orang beriman’. Dalam ayt lain Allah berfirman : وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين . (Dan ingatlah (akan Tuhanmu), karena sesungguhnya ingat kepada Tuhan amat bermanfaat bagi orang-orang Mu’min). Q.s., al-Dzariyat (51:55). Dan dalam surah al-Baqarah (2:152): فاذكرونى أذكركم واشكروا لى ولا تكفرون (Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu menjadi kaum pengingkar). Q.s., al-Baqarah (2:152).Antara subjek dan objek zikir ada saling ketergantungan antara subjek akan objeknya. Karena objek yang diingat Allah Maha Agung, Maha Pengayom dirinya. Oleh karena makna tawajjuh dan kehadiran objek senantiasa melekat di dalam dada subjek (zakir), sehingga ada rasa kerinduan yang mendalam pada dirinya (subjek). Sedangkan aktifitas zikir sendiri medianya bermacam-macam. Ada yang dikenal zikir lisani dan jahri, yaitu pelafalan lafaz zikir dengan suara lantang, dan ada pula zikir sirri (qalbi), yaitu zikir yang dibaca dengan perasaan kekhusyu`an.Zikir banyak sekali faedahnya. Menurut Imam Ghazali bagi orang yang konsisiten melakukan zikir akan mendapat empat buah faedah. Pertama, dia akan diberikan jalan, kalau tidak, ia akan sesat. Kedua, akan diberikan ilmu untuk pengamalan. Kalau tidak, ia akan terhijab. Ketiga, ia akan diberikan keikhlasan dalam beramal. Kalau tidak, maka ia akan rugi, dan keempat, ia akan diberikan rasa aman dan dihindari dari segala bencana. Kalau tidak, maka ia menjadi sombong. (Azkar al-Abrar, 104).Jalan Kedua: Banyak Membaca DoaJalan kedua adalah memperbanyak membaca doa. Doa bagi kebanyakan manusia merupakan hal yang sepele. Tapi tidak demikian dimata Allah. Allah akan marah kepada hambanya yang tidak mau berdoa kepada-Nya. Barangkali masalahnya apakah kita telah benar-benar berdoa atau hanya sekedar membaca doa? Secara tidak sadar bahwa kita selama ini baru pada tahap membaca doa, belum sampai pada makna substansial dari berdoa. Sehingga kita merasa bahwa doa kita tidak pernah dikabulkan oleh Allah. Padahal Allah telah menjanjikan akan mengabulkan doa hambanya. وإذا سألك عبادى عنى فإنى قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لى وليؤمنوا بى لعلهم يرشدون . (Apabila hambaku bertanya tentangku, maka sesungguhnya aku ini dekat. Aku akan mengabulkan doa para pendoa apabila dia berdoa, maka mintalah jawaban padaku dan percayalah, agar kamu mendapat petunjuk). Q.s., al-Baqarah (2:186)Di dalam berdoa ada syarat-syarat tertentu agar doa kita dikabulkan oleh Allah. Pertama adalah keadaan suci dari hadas. Artinya ketika seseorang hendak berdoa harus suci dirinya dari hadas. Suci dari hadas ini merupakan unsur paling elementer, sedangkan tingkatan yang lebih tinggi adalah suci hati dan rohani; Kedua, taubat. Taubat merupakan syarat agar doa kita diterima Allah. Karena Allah tidak menerima doa orang yang bergelimang dosa. Taubat yang diterima apabila meliputi tiga hal. (i) menyesal atas dosa dan maksiat yang telah diperbuat pada masa lalu, (ii) berniat tidak akan mengulangi perbuatan dosa dan maksiat di masa mendatang dan (iii) meninggalkan perbuatan dosa sekarang dan akan datang. Imam Ali berkata mengenai taubat : التقوى هى خوف الجليل والعمل بالتنزيل والإستعداد ليوم الرحيل . Dan Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan selalu suci . إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين . Q.s., al-Baqarah (2:222). Ketiga membuka dan menutup doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasul-Nya (Muhammad s.a.w.). Diriwayatkan dalam sabda Nabi s.a.w. bahwa setiap doa akan terhijab (tertutup) bagi Allah sehingga dibacakan shalawat atasku dan keluaragku’. Keempat menghadap kiblat. Menghadap kiblat ini merupakan adab dalam dalam berdoa. Kelima mengangkat kedua tangan dan mengusapkan ke wajah ketika selesai berdoa. Sikap ini juga merupakan adab dalam berdoa, karena Nabi berpesan bahwa Allah itu Maha Hidup dan Maha Dermawan. Dia tidak sampai hati menolak doa hambanya yang memohon sambil menengadahkan tangan’. Keenam, melirihkan suara antara berbisik dan menangis (munajat) dan khusyu’. Dalam berdoa pun dituntut sikap khusyu’ agar doa kita dikabul. Pesan Allah dalam firmannya : ادعوا ربكم تضرعا وخفية انه لا يحب المعتدين ‘Berdoalah kepada Tuhanmu dengan khusyu’ dan merendahkan suara (lirih). Sesungguhnya Dia tidak suka orang-orang yang melampaui batas. Q.s., al-A1raf (7:55). Keenam, tidak memutuskan tali silaturahim. Nabi bersabda: Silaturahim itu tergantung di Arasy berkata: Siapa yang menyambung denganku Allah akan menyambungnya, dan siapa yang memutuskanku, Allah juga pasti akan memutuskannya. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الرحم معلقة بالعرش تقول من وصلنى وصله الله ومن قطعنى قطعه الله . . Dalam sabda yang lain disebutkan : أفشوا السلام وصلوا الأرحام وأطعموا الطعام وألينوا الكلام وصلوا بالليل والناس نيام ، تدخلون الجنة بالسلام . . “Berilah salam (kepada siapa saja) [sebarkanlah perdamaian], sambungkan silaturhim, berilah makan, sopanlah dalam berbicara dan shalatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, kau akan masuk surga dengan salam (damai)’. Dalam sabda yang lain : ‘ من سره أن يوسّع عليه فى رزقه وأن يبارك فى عمره فليصل رحمه . Siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan diberkati umurnya, maka jagalah silaturahim’.Jalan ketiga : Memperbanyak Fadlailul A`malJalan ketiga adalah dengan memperbanyak fadlailul A`mal. Fadlailul A`mal adalah amal-amal perbuatan yang utama. Dalam kategori ini adalah amal-amal perbuatan sunat, seperti shalat, puasa dan lain-lain sebagainya. Al-Qur’an memberikan semangat bagi para salikin dengan janji akan memberikan mereka ‘posisi yang terpuji’ apabila secara konsisten melakukan shalat sunat. Misalnya digambarkan dalam surah al-Isra (17: 78): ومن اليل فتهجد به نافلة لك عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا . Walaupun ayat ini memberikan pengertian pada shalat tahajjud, akan tetapi masuk ke dalam kategori ibadah sunat pada umumnya yang dilakukan secara istiqamah dan berkesinambungan. Oleh karena itu fadhail A`mal ini dapat dijadikan jalan menuju taqarrub kepada Allah s.w.t.Imam Ghazali memberikan pemaparan yang cukup mengesankan mengenai hal ini dalam bukunya ‘Bidayah al-Hidayah’, bahwa seorang hamba haknya terhadap agama ada tiga. Yang pertama adalah ‘Salim’ (Selamat), yaitu orang yang hanya melakukan ibadah wajib saja. Kedua, Rabih (Beruntung), yaitu orang yang dapat taqarrub kepad Allah dengan melakukan ibadah-ibadah sunat, dan ketiga Khasir (rugi), yaitu orang yang tidak dapat melaksanakan kewajiban, apalagi ibadah-ibadah sunat. Kalau tidak dapat pada tingkatan Rabih (beruntung), usahakan tetap pada tingkat Salim (Selamat). Dan jangan sampai jatuh terjerumus pada tingkat Khasir (Rugi).Sedangkan masalah adab mempersiapkan seluruh shalat ia menulis hendaknya seseorang mempersiapkan diri untuk shalat zuhur sebelum matahari tergelincir, kemudian berwudlu dan bersiap-siap berangkat ke masjid, lalu shalat tahiyyatul masjid. Setelah azan lakukan shalat sunat ‘qabliyah zuhur’ empat rakaat dan kemudian shalat zuhur berjamaah. Setelah itu shalat sunat ‘ba’diyah zuhur’ juga empat raka`at. Setelah itu pergunakan waktu untuk mengkaji dan membaca al-Qur’an sampai masuk waktu ashar. Lakukan shalat sunat ‘qabliyah ashar’ empat rakaat dan shalat ashar berjamaah. Dan begitu seterusnya sampai selesai shalat isya. Jangan tinggalkan tempat sebelum menutup shalat kamu dengan shalat witir. (hal. 312-314).Jalan Keempat: Membangun Akhlak Mulia (Karimah)Jalan ketiga adalah membangun akhlak mulia. Akhlak mulia ini sebagaimana disabdakan Nabi merupakan alasan dan sebab-sebab diutusnya beliau membawa risalah Islam. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق . dan kesaksian Aisyah mengenai akhlak Nabi yang sebenarnya adalah al-Qur’an. Oleh karena itu membangun akhlak mulia adalah membangun kandungan dan isi al-Qur’an sebagai sumber ajaran normatif dalam kehidupan sehari-hari.Jalan Kelima: Berjihad dan SyahadahJalan kelima adalah berjihad. Jihad secara etimologis artinya ‘berusaha sungguh-sungguh dan sekuat tenaga’. Bidang jihad secara umum terbagi kepada 4 kategori. Pertama, jihad terhadap hawa nafsu, jihad terhadap keluarga, jihad terhadap penyimpangan lingkungan, dan jihad kepada penguasa yang zalim. Yang dimaksud dengan jihad hawa nafsu adalah jihad melawan waswas dan biskan syetan dan memegang teguh ajaran agama. Sedangkan jihad terhadap keluarga ialah jihad menjaga mereka dari setiap infiltrasi luar yang menyimpang dan bertentangan dengan ajaran agama. Sedangkan jihad terhadap masyarakat ialah tidak menyebarluaskan perbuatan keji dan amoral pada mereka. Adapun jihad terhadap penguasa yang zalim ialah memberikan nasehat dan perbaikan kepada hal-hal yang lebih baik. Diantara jihad-jihad tersebut yang terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu, sesuai dengan sabda Nabi s.a.w. : أفضل الجهاد أن تجاهد نفسك وهواك فى ذات الله عز وجل . (Sebaik jihad adalah jihad terhadap nafsu dan keinginan kamu terhadap zat Allah).Jalan Keenam: Ihsan dan Pengabdian yang TulusJalan keenam adalah jalan ihsan dan pengabdian yang tulus. Ihsan adalah tingkat tertinggi dalam perjalanan spiritual manusia, setelah melalui jalan syariat dan iman. Maqam ihsan ini merupakan terminal terakhir perjalanan hidup seorang salik. Pada maqam ini yang berbicara bukan lagi dimensi fisik, tetapi dimensi nurani yang berperan dalam memberikan petunjuk seorang hamba. Oleh karena itu hadis Nabi s.a.w. menjelaskan mengenai ihsan dalam ibadah ialah ‘seakan-akan kamu melihat Allah, apabila kamu tidak melihatnya, yakinlah bahwa Allah pasti melihat (perbuatan) kamu’. أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك .Sesorang yang telah mencapai maqam ihsan ini akan dapat merasakan kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam dirinya, karena ihsan merupakan puncak keimanan –demikian Ibn Qayyim – menyebutnya. Seorang Muhsin adalah orang yang merasakan kehadiran Allah dalam hatinya.Rujukan:Abu Hami Al-Ghazali, Bidayah al-Hidayah, dalam ‘Minhaj al-`Abidin’, Mesir: Maktabahal-Gundi, 1972.Rauf Syalabi, Al-Jihad fi al-Islam, Manhaj wa Tathbiq, Mesir: Silsilah al-Buhust al-Islamiyah, 1980.Fawzi M. Abu Zayd, Azkar al-Abrar, Mesir: Dar al-Iman wa al-Hayat, 2000.Yunasril Ali, Jalan Kearifan Sufi, Jakarta: Serambi, 2002Nasruddin Latief[1] . Disampaikan pada Kajian Pusat Studi Islam Paramadina, tema: Risalah Tasawuf: Kajian tentang Tingkatan Jiwa dan Pensuciannya, Jakarta, 21 Agustus 2003.
Al-Qur'an Berkumandang di Chinese University of Hongkong
AYAT SUCI AL-QUR'AN DAN SHALAWAT NABI BERKUMANDANG DI AUDITORIUM CHINESE UNIVERSITY OF HONGKONG
Seperti yang saya tulis sebelumnya mengenai malam budaya dan agama 'Harmony in Diversity: A New Generation of Global, Cultural and Religious Perspectives' yang diselenggarakan oleh Department of Cultural and Religious Studies, The Chinese University of Hongkong, umat Islam Indonesia tampil mewakili agama Islam. Acara yang menampilkan semua agama yang ada di Hongkong ini kecuali Yahudi, mula-mula tampil adalah wakil dari Katolik. Mereka membawakan lagu Ubi Caritas est Vera, Deus ibi est, kemudian dilanjutkan dengan lagu 'Exsuptate Justi" Ludovico Grossi da Viadana. Setelah itu dilanjutkan oleh wakil agama Konghuchu, yang membawakan lagu dalam bahasa Mandarin. Lalu tampil wakil dari agama Islam.
Agama Islam menampilkan group kasidah para akhawat yang dibina oleh pihak Dakwah Committee Islamic Union of Hongkong. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan shalawat Nabi dan diakhiri dengan lagu Rindu padamu Ya Allah dalam bahasa Cantonis.
Setelah wakil agama Islam, tampil wakil agama Hindu yang membawakan lagu Krishna. Berkumandanglah selama 15 menit alunan lagu tersebut " Hare Krishna Hare Krishna, Krishna Krishna Hare Hare, Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare". Setelah itu tampil wakil dari Protestan membawakan lagu the Bread dan I say Jesus, Jesus, I say Jesus. It's You diiringi band rock.
Seperti yang saya komentari bahwa acara seperti ini patut dicontoh karena akan memberikan wawasan bagi masyarakat kita yang majemuk dalam soal agama, sehingga tidak perlu terjadi ribut dan bermusuhan seperti yang terjadi di Ambon dan Poso. Generasi muda Hongkong (Pelajar dan siswa-siswi sekolah) diberi kesempatan untuk mengetahui agama-agama yang ada di Hongkong, sehingga wawasan pluralitas keagamaan mereka tumbuh. Walaupun saya baru tahu kalau banyak diantara mereka yang tidak beragama (no religion). Saya kira contoh yang selama ini menjadi trade mark Paramadina yang menyamakan semua agama tidak perlu lagi dilanjutkan, karena kita mengambil contoh dari Hongkong tentang makna sebenarnya dari pluralisme agama.
Bila ada yang ingin dikomentari dan ditanggapi, saya sangat berterima kasih. Saya tunggu.
Salam,
Nasruddin Latief,
Hongkong.
Seperti yang saya tulis sebelumnya mengenai malam budaya dan agama 'Harmony in Diversity: A New Generation of Global, Cultural and Religious Perspectives' yang diselenggarakan oleh Department of Cultural and Religious Studies, The Chinese University of Hongkong, umat Islam Indonesia tampil mewakili agama Islam. Acara yang menampilkan semua agama yang ada di Hongkong ini kecuali Yahudi, mula-mula tampil adalah wakil dari Katolik. Mereka membawakan lagu Ubi Caritas est Vera, Deus ibi est, kemudian dilanjutkan dengan lagu 'Exsuptate Justi" Ludovico Grossi da Viadana. Setelah itu dilanjutkan oleh wakil agama Konghuchu, yang membawakan lagu dalam bahasa Mandarin. Lalu tampil wakil dari agama Islam.
Agama Islam menampilkan group kasidah para akhawat yang dibina oleh pihak Dakwah Committee Islamic Union of Hongkong. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan shalawat Nabi dan diakhiri dengan lagu Rindu padamu Ya Allah dalam bahasa Cantonis.
Setelah wakil agama Islam, tampil wakil agama Hindu yang membawakan lagu Krishna. Berkumandanglah selama 15 menit alunan lagu tersebut " Hare Krishna Hare Krishna, Krishna Krishna Hare Hare, Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare". Setelah itu tampil wakil dari Protestan membawakan lagu the Bread dan I say Jesus, Jesus, I say Jesus. It's You diiringi band rock.
Seperti yang saya komentari bahwa acara seperti ini patut dicontoh karena akan memberikan wawasan bagi masyarakat kita yang majemuk dalam soal agama, sehingga tidak perlu terjadi ribut dan bermusuhan seperti yang terjadi di Ambon dan Poso. Generasi muda Hongkong (Pelajar dan siswa-siswi sekolah) diberi kesempatan untuk mengetahui agama-agama yang ada di Hongkong, sehingga wawasan pluralitas keagamaan mereka tumbuh. Walaupun saya baru tahu kalau banyak diantara mereka yang tidak beragama (no religion). Saya kira contoh yang selama ini menjadi trade mark Paramadina yang menyamakan semua agama tidak perlu lagi dilanjutkan, karena kita mengambil contoh dari Hongkong tentang makna sebenarnya dari pluralisme agama.
Bila ada yang ingin dikomentari dan ditanggapi, saya sangat berterima kasih. Saya tunggu.
Salam,
Nasruddin Latief,
Hongkong.
Harmony in Diversity
HARMONY IN DIVERSITY: CO-EXISTENCE AMONGST RELIGIOUS AND ETHNIC COMMUNITIES
Tadi malam saya mendapatkan kesempatan menyaksikan acara 'Harmony in Diversity' yang diselenggarakan oleh Department of Cultural and Religious Studies, the Chinese University of Hongkong. Program ini nampaknya program tahunan yang dilakukan untuk memberikan keterbukaan bagi masyarakat Hongkong, terutama generasi mudanya mengenai pluralisme agama. Perbedaan diantara agama-agama bukan berakhir pada penyamaan semua agama, tapi pada pengakuan kebaradaan mereka, tanpa membuat prasangka negatif pada agama lain. Saya melihat betapa indahnya tema yang diusung yaitu 'harmony in diversity'. Saya menyaksikan peserta yang hadir, terutama wakil-wakil dari siswa siswi sekolah menengah juga ikut menyaksikan dan mengisi acara
The Chinese University of Hongkong terletak di kawasan Shatin, Kow Loon island. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Dari Wancai (IUHK) dituju dengan dua kali pindah transport. Pertama menggunakan bus sampai terminal kereta Hong Ham. Dari situ dilanjutkan naik kereta MCR jurusan Lo Wu, kota terakhir Hongkong yang berbatasan dengan Shen Zen, Cina Daratan.
Kampus the Chinese Univerity of Hongkong sangat luas, dan terletak di bukit agak tinggi. Dari stasiun kereta, namanya juga stasiun University, ditempuh menggunakan shuttle bus sampai di lokasi. Karena jaraknya agak jauh dan juga menaiki tanjakan.
Saya merasakan penghargaan megenai rasa religiusitas mereka. Panitia penyelenggara dari Jurusan Studi Budaya dan Agama mempersilahkan kami dan rombongan untuk melaksanakan shalat magrib terlebih dahulu di salah satu ruang kuliah, sebelah Aula Utama tempat acara. Karena kami tiba di lokasi menjelang maghrib dan acara dimulai setalah magrib. Magrib di HK k.l. jam 19.15. Kesan pertama yang segera terlihat adalah kebersihan dan kemodernan fasilitas ruang kuliah. Ruang kuliah tidak terlalu besar, berkarpet, diisi dengan 30an kursi mahasiswa. Tiap ruang kuliah mempunyai audio visual dengan meja permanen. Infocus diletakkan permanen juga digantung di atas ruangan kelas. Bisa kita bayangkan berapa buah peralatan tersebut mereka miliki. Yang jelas sebanyak kelas yang dimiliki sebanyak itu juga peralatan pendukung perkuliahan yang tersedia.
Masih jauh rasanya kita membayangkan di tanah air ada sebuah universitas yang mempunyai kelengkapan fasilitas pendukung perkuliahannya sebaik itu. Masih menunggu puluhan tahun dan juga bayarannya pasti akan mahal sekali. Mudah-mudahan UPM tidak seperti itu.
Mengenai isi dan acara yang berlangsung nanti akan saya susulkan dalam tulisan berikutnya.
Salam,
Nasruddin Latief
Tadi malam saya mendapatkan kesempatan menyaksikan acara 'Harmony in Diversity' yang diselenggarakan oleh Department of Cultural and Religious Studies, the Chinese University of Hongkong. Program ini nampaknya program tahunan yang dilakukan untuk memberikan keterbukaan bagi masyarakat Hongkong, terutama generasi mudanya mengenai pluralisme agama. Perbedaan diantara agama-agama bukan berakhir pada penyamaan semua agama, tapi pada pengakuan kebaradaan mereka, tanpa membuat prasangka negatif pada agama lain. Saya melihat betapa indahnya tema yang diusung yaitu 'harmony in diversity'. Saya menyaksikan peserta yang hadir, terutama wakil-wakil dari siswa siswi sekolah menengah juga ikut menyaksikan dan mengisi acara
The Chinese University of Hongkong terletak di kawasan Shatin, Kow Loon island. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Dari Wancai (IUHK) dituju dengan dua kali pindah transport. Pertama menggunakan bus sampai terminal kereta Hong Ham. Dari situ dilanjutkan naik kereta MCR jurusan Lo Wu, kota terakhir Hongkong yang berbatasan dengan Shen Zen, Cina Daratan.
Kampus the Chinese Univerity of Hongkong sangat luas, dan terletak di bukit agak tinggi. Dari stasiun kereta, namanya juga stasiun University, ditempuh menggunakan shuttle bus sampai di lokasi. Karena jaraknya agak jauh dan juga menaiki tanjakan.
Saya merasakan penghargaan megenai rasa religiusitas mereka. Panitia penyelenggara dari Jurusan Studi Budaya dan Agama mempersilahkan kami dan rombongan untuk melaksanakan shalat magrib terlebih dahulu di salah satu ruang kuliah, sebelah Aula Utama tempat acara. Karena kami tiba di lokasi menjelang maghrib dan acara dimulai setalah magrib. Magrib di HK k.l. jam 19.15. Kesan pertama yang segera terlihat adalah kebersihan dan kemodernan fasilitas ruang kuliah. Ruang kuliah tidak terlalu besar, berkarpet, diisi dengan 30an kursi mahasiswa. Tiap ruang kuliah mempunyai audio visual dengan meja permanen. Infocus diletakkan permanen juga digantung di atas ruangan kelas. Bisa kita bayangkan berapa buah peralatan tersebut mereka miliki. Yang jelas sebanyak kelas yang dimiliki sebanyak itu juga peralatan pendukung perkuliahan yang tersedia.
Masih jauh rasanya kita membayangkan di tanah air ada sebuah universitas yang mempunyai kelengkapan fasilitas pendukung perkuliahannya sebaik itu. Masih menunggu puluhan tahun dan juga bayarannya pasti akan mahal sekali. Mudah-mudahan UPM tidak seperti itu.
Mengenai isi dan acara yang berlangsung nanti akan saya susulkan dalam tulisan berikutnya.
Salam,
Nasruddin Latief
Saya Mendapatkan Islam di Hongkong
SAYA MENDAPATKAN ISLAM DI HONGKONG
Setelah beberapa hari saya berada di Hongkong dan melakukan dakwah dengan berbagai kalangan, terutama warga Indonesia, yang mayoritas berprofesi sebagai tanaga kerja, rasanya banyak sekali hal-hal baru yang saya dapatkan dari mereka, terutama menyangkut masalah keagamaan.
Di luar jam kantor biasanya mereka menelpon ke HP yang disediakan oleh pihak Dakwah Caommittee bekerjasama dengan perusahaan jasa telekomunikasi. Dering bunyi telpon biasanya hampir tak ada jedah. Mereka bertanya dari mulai soal masalah-masalah fikih yang dihadapi sehari-hari, bagaimana hukumnya? Bagaimana pandangan agama Islam atas masalah-masalah yang dihadapi? Sampai pada masalah rumah tangga di kampung, karena mayoritas mereka sudah berkeluarga, dan masih banyak lagi masalah-masalah lain.
Mereka mengakui bahwa kebanyakan yang berangkat ke Hongkong mencari pekerjaan ini bukan dari kalangan yang berpendidikan. Paling tinggi mereka hanya lulus SMP, bahkan ada yang hanya lulus sekolah Dasar. Jadi pengetahuan 'umum' dan juga agama mereka rata-rata awam. Begitu juga hal ini berdampak pada aplikasi pengahayatan keagamaan mereka.
Mereka merasa sangat bersyukur karena dengan aktif pada kegiatan dakwah dan pengajian yang secara rutin diadakan oleh Islamic Union of Hongkong bisa menjembatani kekurangan pengetahuan mereka dalam bidang agama dan pengetahuan umum. Bahkan bukan hanya itu saja, mereka juga mendapatkan bimbingan training-training dari lembaga yang kompeten di Indonesia seperti Dompet Dhuafa dan lain-lain.
Dalam salah satu percakapan dengan seorang, yang saya lupa namanya, dia mengungkapkan seluruh isi hatinya sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam pada Allah swt. Ia merasa bahwa kesadaran keagamaannya justru tumbuh ketika berada di Hongkong ini. Ia merasa dirinya semakin dekat pada Tuhan. Ketika masih berada di kampung tidak terasa hal ini, bahkan ia merasa biasa-biasa saja. Tidak ada getaran nurani hatinya tersentuh pada Tuhan. Tuhan telah memberikan spirit baginya justru dinegeri bukan Islam, di negeri 'kafir' seperti Hongkong.
Saya bisa memahami makna kegembiraan yang diungkapkan dalam percapakan telepon lebih setengah jam itu. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang membuktikan hambanya yang senantiasa mencari kebenaran dimanapun ia berada. Masya Allah begitulah kebesaran Tuhan terhadap hambanya yang setia.
Amin.
Hongkong, 8 Juli 2005
Nasruddin Latief
Setelah beberapa hari saya berada di Hongkong dan melakukan dakwah dengan berbagai kalangan, terutama warga Indonesia, yang mayoritas berprofesi sebagai tanaga kerja, rasanya banyak sekali hal-hal baru yang saya dapatkan dari mereka, terutama menyangkut masalah keagamaan.
Di luar jam kantor biasanya mereka menelpon ke HP yang disediakan oleh pihak Dakwah Caommittee bekerjasama dengan perusahaan jasa telekomunikasi. Dering bunyi telpon biasanya hampir tak ada jedah. Mereka bertanya dari mulai soal masalah-masalah fikih yang dihadapi sehari-hari, bagaimana hukumnya? Bagaimana pandangan agama Islam atas masalah-masalah yang dihadapi? Sampai pada masalah rumah tangga di kampung, karena mayoritas mereka sudah berkeluarga, dan masih banyak lagi masalah-masalah lain.
Mereka mengakui bahwa kebanyakan yang berangkat ke Hongkong mencari pekerjaan ini bukan dari kalangan yang berpendidikan. Paling tinggi mereka hanya lulus SMP, bahkan ada yang hanya lulus sekolah Dasar. Jadi pengetahuan 'umum' dan juga agama mereka rata-rata awam. Begitu juga hal ini berdampak pada aplikasi pengahayatan keagamaan mereka.
Mereka merasa sangat bersyukur karena dengan aktif pada kegiatan dakwah dan pengajian yang secara rutin diadakan oleh Islamic Union of Hongkong bisa menjembatani kekurangan pengetahuan mereka dalam bidang agama dan pengetahuan umum. Bahkan bukan hanya itu saja, mereka juga mendapatkan bimbingan training-training dari lembaga yang kompeten di Indonesia seperti Dompet Dhuafa dan lain-lain.
Dalam salah satu percakapan dengan seorang, yang saya lupa namanya, dia mengungkapkan seluruh isi hatinya sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam pada Allah swt. Ia merasa bahwa kesadaran keagamaannya justru tumbuh ketika berada di Hongkong ini. Ia merasa dirinya semakin dekat pada Tuhan. Ketika masih berada di kampung tidak terasa hal ini, bahkan ia merasa biasa-biasa saja. Tidak ada getaran nurani hatinya tersentuh pada Tuhan. Tuhan telah memberikan spirit baginya justru dinegeri bukan Islam, di negeri 'kafir' seperti Hongkong.
Saya bisa memahami makna kegembiraan yang diungkapkan dalam percapakan telepon lebih setengah jam itu. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang membuktikan hambanya yang senantiasa mencari kebenaran dimanapun ia berada. Masya Allah begitulah kebesaran Tuhan terhadap hambanya yang setia.
Amin.
Hongkong, 8 Juli 2005
Nasruddin Latief
Islam semakin Diterima Semua Kalangan
Islam Semakin Diterima Semua Kalangan Hari kedua (2 Juli 2005) keberadaan saya di Hongkong diisi dengan kegiatan Dakwah Committe di Islamic Union of Hongkong di Wancai. Pagi hari dari jam 11.00 - 13.00 berbicara dengan komunitas Indonesia, jamaah pengajian rutin (halaqoh) Sabtu, dengan jumlah peserta yang cukup banyak. Dalam pertemuan perdana saya lebih banyak memberikan 'motivation' mereka dengan pendekatan holistik atas anugerah dan potensi yang diberikan Allah kepada manusia, siapapun mereka, bangsa apapun mereka, warna kulit apapun mereka. Dengan mengambil contoh idola yang dikagumi dan kesuksesan mereka, banyak peserta yang tersentuh. Kok mereka bisa berhasil, kenapa kita tidak berhasil, padahal anugerah Allah pada dia dan kita sama. Dimana letak kesalahan kita. Kesimpulannya adalah kita harus berubah, mengasah potensi dan anugerah kita menjadi tajam. Karena selama ini potensi yang ada itu, bagaikan pisau yang sudah berkarat, tidak tajam lagi. Caranya hanya bagaimana kita selalu dan senantiasa mengasah 'pisau' potensi itu agar selalu tajam.Pada sore hari sesuai jadwal kegiatan Dakwah Committee saya mengajar bahasa Arab. Saya tidak membayangkan kalau di HK ada kegiatan belajar bahasa Arab. Antusiame para peserta sangat tinggi. Saya juga melihah warga HK yang ingin mengetahui lebih dalam tentang agama Islam. Diantara mereka ada yang sudah masuk Islam maupun yang belum. Kegiatan ini dikerjakan oleh Brother Othman Wang, imam di masjid Ammar Wancai. Begitu kelas yang dikelola oleh orang-orang Pakistan. Saya melihat kegiatan di IUHK cukup ramai, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Kegiatan tersebut berakhir sampai jam 17.00 sore (waktu azan shalat Asar)Setelah itu saya dan kawan dari Dakwah Committee mendapat undangan dari keluarga Indonesia yang menikah dengan warga Amerika yang sudah menjadi muslim. Keluarga itu, terutama suaminya yang Amerika ingin lebih mendalami ajaran Islam, terutama hal-hal asasi dalam shalat. Kami berada disana sampai lepas maghrib dan shalat bersama di rumah mereka. Melihat kawasan tempat tinggal mereka kita bisa menebak, mereka dari kalangan "atas. Karena sewa apartment kawasan tersebut perbulan kurang lebih HKD 50.000. Dari obrolan dan pertanyaan yang diajukan keluarga itu saya sangat berkesan betapa ingin tahunya mereka mengenai ajaran agama Islam. Mereka membaca buku-buku dasar agama Islam, tapi ingin lebih tahu penjelasan langsung dari Dai. Ternyata kakaknya juga sudah menjadi muslim dan tinggal di USA.Dari pertemuan dan obrolan singkat tersebut, saya teringat sebuah Hadits Nabi yang sering diungkapkan Syeikh Yusuf Qaradhawi, dalam acara beliau di TV Al-Jazirah Qatar, - ketika saya tinggal di Jeddah TV tersebut menjadi santapan pavorit saya - bahwa agama Islam akan masuk "ke rumah yang terbuat dari batu/tanah liat" maupun ke "rumah gedung". Hadits ini jarang dikemukakan dalam pelajaran hadits di tanah air. Hadits ini dikemukakan Nabi dalam bahasa sombolis. Maknanya adalah bahwa nanti agama Islam akan diterima oleh berbagai kalangan, apapun status mereka. "Rumah Gedung" dalam nash hadits tersebut bisa kita kategorikan bangsa-bangsa/negara-negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Utara. Saya teringat Prof. Dr. Nurcholish Madjid sering berbicara masalah ini dalam berbagai kesempatan, baik kuliah maupun ceramah beliau di kapus UPM.Peristiwa kecil itu semoga menjadi pertanda kebenaran hadits Nabi diatas dan Islam semakin diterima oleh berbagai kalangan. Saya mohon tanggapan dan komentar pembaca.Salam,Nasruddin Latief
Makna Din, Millah dan Nihlah dalam Al-Qur'an
MAKNA DIN, MILLAH DAN NIHLAH DALAM AL-QUR’AN
Al-Qur’an banyak sekali mengungkapkan kalimat ‘din’ dalam berbagai surat dan ayat. Kata tersebut terulang dalam 92 kali dan semuanya dalam bentuk tunggal (mufrad), tidak ada satupun dalam bentuk jamak (adyan). Sedangkan kata ‘millah’ terulang 15 kali, juga semuanya dalam bentuk tunggal dan tidak satupun dalam bentuk jamak (milal). Kata ‘nihlah’ tidak terdapat dalam Al-Qur’an, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak (nihal) kecuali satu ayat saja dan bermakna ‘pemberian yang penuh kerelaan’ dalam mahar.
Kata ‘din’ berakar kata dari huruf ‘d-y-n’, yang mempunyai makna ‘meminjam atau berhutang’ bila verbal-nounnya ‘dayn’ (jamak duyun), dan bermakna memeluk (agama) bila berderivasi ‘din’ (jamak adyan). Kata ‘din’ adalah suku kata bahasa Arab original (al-ashil). Bukan kata serapan dari bahasa asing, seperti pendapat semestara ahli yang mengatakan bahwa kata tersebut merupakan serapan dari bahasa Persia.
Menurut Ibn Manzhur dalam kamus ‘Lisan al-‘Arab’ kata ‘din’ ini secara etimologis digunakan dalam empat makna:
‘Din’ dalam makna hukum, kuasa, tunduk, mengatur dan perhitungan (al-hukm wa siyasat al-umur wa al-qahr wa al-tadbir wa al-muhasabah). Contohnya : دانه دينا و دان الناس : قهرهم على الطاعة . Contoh lain, misalnya dikemukakan dalam hadits Nabi saw : الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت . Makna ‘dana’ dalam hadits diatas adalah ‘qahara nafsahu’ menundukkan hawa nafsunya’. Oleh karena itu Nabi Muhammad saw dipanggil oleh para pujangga Arab : Ya Sayyid al-Nas wa Dayyan al-Arab.
Din dalam makna ketertundukan, taat, pengabdian, tunduk (al-taskhir, wa al-itha’at wal abdiyah wa al-khudu’). Contohnya : دان له : أطاعه وخضع له . Dalam hadits Nabi saw misalnya dikemukakan : أريد من قريش كلمة تدين بها العرب . Makna ‘tudiinu biha’ disini adalah taat dan tunduk.
Din dalam makna pembalasan, perhitungan dan ganjaran (al-jaza’ wa al-hisab wa al-mukafa’ah). Dalam kamus ‘Taj al-‘Arus’ dikemukakan bahwa makna ‘din’ adalah al-jaza’ (pembalasan/ganjaran). Begitu juga Al-Zamakhsyari dalam kitab ‘Asas al-Balaghah’ memaknainya dengan ‘al-jaza’. Dalam hadits Nabi dikemukakan : ان الله ليدين للجماء من ذات القرن . Din dalam hadits ini bermakna ‘memberikan balasan atau mengganjar’.
Din dalam makna aqidah (al-I’tiqad). Din berdasarkan pandangan ini adalah jalan atau syariat yang dilaksanakan oleh seseorang.
Ibn Faris, seorang ahli bahasa Arab dalam karyanya ‘Mu’jam Maqayis al-Lughah’ dalam entri ‘d-y-n’ berpendapat bahwa semua akar kata tersebut berasal dari asal yang sama, dan makna derivasinya juga merujuk kepada makna asalnya. Sehingga ‘din’ bermakna semua jenis dari ketertundukan dan keterhinaan (al-inqiyad wa al-dzull). Bila merujuk pada pandangan Ibn Faris, maka semua makna etimologis yang dikemukakan diatas merupakan species dari makna genus ‘ketertundukan dan keterhinaan’.
Dari keempat makna yang dikemukakan diatas bila dikonversikan ke dalam penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an, maka Al-Qur’an mempergunakan keempat makna tersebut dalam berbagai ayat di dalamnya sebagai makna terminologis.
Makna pertama ‘din’ adalah ‘kekuasaan tertinggi dan hukum Allah (al-Sulthat al-Ulya wa al-Hukm Lillah). Makna kedua adalah ketertundukan dan taat kepada kekuasaan Allah (al-Tha’at wa al-Idz’an lihakimiyat Allah wa Sulthanihi). Kedua makna ini tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan lainnya. Contoh-contohnya dalam Al-Qur’an antara lain:
أفغير دين الله يبغون وله أسلم من فى السموات والأرض طوعا وكرها وإليه يرجعون. آل عمران : 83 .
وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء . البينة : 5
وله ما فى السموات والأرض وله الدين واصبا أفغير الله تتقون . النحل : 52
هو الحى لا إله إلا هو فادعوه مخلصين له الدين َ الحمد لله رب العلمين . غافر : 65
Kata ‘din’ dalam ayat-ayat di atas bermakna kekuasaan tertinggi dan ketertundukan kepada kekuasaan tertinggi tersebut serta menerima ketaatan dan pengabdian kepada-Nya.
Makna ketiga dari ‘din’ adalah syariat dan sistem kehidupan dibawah kekuasaan Tuhan (al-Syariat wa al-Nizham al-Ka’in tahta Sulthan Allah wa Hakimiyyatihi).
Contohnya dikemukakan dalam ayat-ayat berikut:
قل يأيها الناس إن كمتم فى شك من دينى فلا أعبد الذين تعبدون من دون الله ولكن أعبد الله الذى يتوفاكم وأمرت أن أكون من المؤمنين ، وأن أقم وجهك للدين حنيفا ولا تكونن من المشركين. يونس: 104-105
أم لهم شركاء لهم من الدين ما لم يأذن به الله . الشورى : 21
Makna ‘din’ dalam ayat diatas mempunyai makna syariat dan sistem kehidupan (amaliyah) yang dilakukan manusia terhadap ajaran agama. Apabila hukum dan syariat dimana manusia terikat dan tunduk pada aturan yang bersumber dari Tuhan, maka ia berada dalam agama Tuhan. Sedangkan apabila ia tunduk pada sistem dan aturan buatan manusia, maka ia berada pada sistem bikinan manusia, seperti ditegaskan dalam surat Yusuf “ ما كان ليأخذ أخاه فى دين الملك “, (Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut aturan Raja. Q.s., Yusuf: 76). Makna Din dalam ayat ini adalah sistem kekuasaan Raja Mesir pada masa Nabi Yusuf.
Makna keempat adalah ganjaran dan hitungan (al-Jaza wa al-Mukafa’ah). Al-Qur’an mengemukakan beberapa ayat, antara lain:
إنما توعدون لصادق ،وإن الدين لواقع . الذاريات : 5-6
وما أدرىك ما يوم الدين ، ثم ما أدرىك ما يوم الدين ، يوم لا تملك نفس لنفس شيئا والأمر يومئذ لله. الإنفطار: 17-19
وقالوا يويلنا هذا يومُ الدين . الصافات : 20
Kata ‘din’ dalam Al-Qur’an juga ada yang idhafat dengan al-haq (din al-haq). Misalnya dalam surat al-Tawbah: 33 dan Al-Shaf: 9, juga surat al-Fath: 28.
هو الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون. التوبة: 33 والصف: 9
هو الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا . الفتح : 28
Dari ke-92 kata ‘din’ dalam Al-Qur’an semuanya idhafah (ma’rifah) kepada pemilik Syariat atau pemeluknya (yang juga bersumber dari Allah), dan hanya empat buah ayat yang nakirah yaitu pada surah Alu Imran: 85, al-Nisa’: 125, al-Ma’idah: 3 dan al-An’am: 161.
Makna Millah
Al-Millah terdapat dalam Al-Qur’an dan terulang 15 kali dan semuanya dalam bentuk tunggal. Delapan kali kata tersebut beridhafah kepada Nabi Ibrahim. Semua ini terdapat dalam surat-surat Al-Baqarah: 130 dan 135, Alu Imran: 95, al-Nisa’: 125, al-An’am: 161, Yusuf: 38, al-Nahl: 123, dan al-Haj: 78. Sedangkan sisanya beridhafah kepada dhamir, seperti dalam surat Al-A’raf: 88 dan 89 (Millatina dan Millatikum, kisah Nabi Su’aib), Surat Ibrahim: 13 (millatina), Surat Shad: 7 (al-Millat al-Akhirati), Al-Baqarah: 120 (Millatahum) dan Surat al-Kahfi: 20 (Millatihim).
Makna ‘al-Millah’ menurut Abu al-Faraj al-Asfahani dalam karyanya ‘al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an’ millah sama dengan ‘din’ yaitu syariat Allah kepada hamba-Nya melalui para Nabi a.s. agar dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Ibn Jarir al-Thabary juga menyamakan antara ‘din’ dengan ‘millah’. Sedangkan al-Zamakhsyari dalam ‘Asas al-Balaghah’ kata ini dapat dipahami secara metafor yaitu jalan yang disyariatkan (al-thariqat al-maslukat), seperti millah Ibrahim. Ia membedakan antara ‘din’ dengan ‘millah’. Millah adalah nama bagi sejumlah syariat. Begitu juga pendapat Abu Hilal al-‘Askari seorang ahli linguistik bahasa Arab. Cuma Al-Asfahani membedakan antara keduanya. Millah tidak diidhafahkan kecuali kepada Nabi yang membawanya seperti ‘millata Ibrahima’ atau ‘millata Aba’i Ibrahima wa Ishaqa wa Ya’kuba (12:38). Tidak terdapat idhafah kepada Allah dan tidak dipergunakan kecuali dalam sejumlah syariat. Seperti misalnya ‘Millatullahi’. Sedangkan ‘din’ hanya diidhafatkan kepada Allah.
Menurut M. Quraish Shihab, kata ‘millah’ terambil dari kata yang berarti ‘mengimla’kan’, yakni membacakan kepada orang lain agar ditulis olehnya. Ini karena agama atau ‘millah’ adalah tuntunan-tuntunan yang disampaikan Allah swt bagaikan sesuatu yang diimla’akan atau ditulis sehingga sama sepenuhnya dengan apa yang disampaikan. Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw dipersamakan dengan ‘millah’ Ibrahim karena prinsip-prinsip ajaran Islam sama dengan prinsip-prinsip ajaran Nabi Ibrahim as seperti tauhid, fitrah, moderasi, penegakan hak dan keadilan, keramahtamaan dan lain-lain.
Sedangkan Ibn Manzhur dalam ‘Lisan al-‘Arab’ memaknai millah adalah syariat dan agama (din). Millah adalah agama seperti millah Islam, Kristen dan Yahudi; makna yang lain adalah sejumlah agama dan apa yang dibawa oleh para Rasul. (hal. 4271).
Imam Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadits dalam shahihnya ketika paman Nabi Muhammad saw akan meninggal beliau dating, dan disitu sudah ada tokoh kafir Quraisy. Nabi mengajarkan Abu Thalib mengucapkan dua kalimat syahadat, tiba-tiba disela oleh Abu Jahal dengan mengatakan ‘atarghabu ‘an millat Abdul Mutahlib’ (أترغب عن ملة عيد المطلب ؟ ).
Dari keterangan diatas para Ulama tidak membedakan antara ‘millah’ dan ‘din’.
Makna Nihlah
Kata ‘Nihlah’, jamak ‘Nihal’ tidak terdapat dalam Al-Qur’an kecuali satu ayat yang terdapat dalam surat al-Nisa’ yang berbicara mengenai mahar (mas kawin). وآتوا النساء صدقاتهن نحلة (4:4) yang bermakna ‘pemberian yang penuh kerelaan’, dan kata ‘al-Nahl’ yang berarti lebah (Q.s, al-Nahl:68).
Hans Wehr dalam Kamus Arabic-English Disctionary juga memberikan makna yang sama seperti diatas yaitu present, gift, donation; dan creed, faith, sect. Demikian juga Al-Asfahani dalam ‘al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an’, hanya saja ia menegaskan bahwa makna nihlah lebih khusus ketimbang hibah. Semua hibah masuk ke dalam makna nihlah, sedangkan tidak semua nihlah hibah.
Akar kata ‘n-h-l’ yang mempunyai tambahan beberapa huruf dan menjadi ‘intahala’ maknanya adalah ‘mengklaim’ (mis. Intahala al-A’rabiyah: to claim to be a Bedouin). Makna klaim ini kembali kepada apa yang dikalimnya. Eliyas A. Eliyas dalam ‘al-Qamus al-‘Ashry’ menerjemahkannya sebagai mazhab agama. Ibn Manzhur mengartikannya dengan makna ‘klaim’ (al-da’waa) dan agama. Ia mencontohkannya ‘ ويقال : ما نحلتك أى ما دينك ؟
Para Sarjana Modern menggunakannya menjadi kumpulan akidah dan ibadah yang berlaku bagi seseorang. Dalam makna tersebut, ‘nihlah’ mempunyai makna yang sempit yaitu pengakuan seseorang atau kelompok orang atas kepercayaan tertentu, baik yang bersifat agama atau bukan. Al-Qur’an memang tidak secara ekplisit mengungkapkan kata nihlah, tapi secara implicit mengungkapkan makna yang dikandungnya yaitu ‘ittiba’ al-hawa’ (mengikuti hawa nafsu). Misalnya, ولا تتبع أهواءهم عما جاءك من الحق . (al-Ma’idah: 48). Ibn Hazm juga menyamakan antara nihlah dengan agama atau millah.
Dari penjelasan diatas banyak para ulama yang tidak membedakan antara makna ‘din’, millah dan nihlah. Semuanya memaknainya sama yaitu agama.
Beragama (berdin, bermillah dan bernihlah) fitrah manusia
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk religius. Bahkan ditegaskan Nabi Muhammad saw dalam sabdanya bahwa setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan fitri. Akan tetapi dalam kenyataan kehidupan sehari-hari di lingkungan dimana mereka tinggal, mereka berinteraksi dengan pemeluk agama, millah maupun nihlah yang lain. Bagaimana pandangan Al-Qur’an terhadap masalah tersebut. Dalam hal ini Al-Qur’an berpandangan sangat plural, sebagaimana dikemukakan dalam surat Saba’: 24-26, وإنا أو إياكم لعلى هدى أو فى ضلال مبين ، قل لا تسئلون عما أجرمنا ولا نسئل عما تعملون ، قل يجمع بيننا ربُنا ثم يفتح بيننا بالحق وهو الفتاح العليم .
Ayat diatas menggambarkan bagaimana seharusnya seorang muslim berinteraksi dengan penganut din, millah, dan nihlah yang berbeda dengannya, karena setiap penganut tersebut meyakini kebenaran ajaran yang dianutnya. Dan hal tersebut tidak boleh ditonjolkan dalam masyarakat yang plural dan aneka ragam kepercayaan. Gaya bahasa redaksional ayat diatas disebut oleh para ualama dengan istilah ‘uslub al-inshaf’ (tenggang rasa), dimana si pembicara tidak secara tegas mempersalahkan lawan bicaranya. Karena nanti Allah akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Nasruddin Latief
Referensi:
M. Fuad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras lialfazh al-Qur’an al-Karim, Mu’assah al-Jamal, Beirut, Lebanon. Tt.
Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, Dar al-Ma’arif, Cairo, Mesir.
Imam Bukhari, Shahih Bukhari,
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Lentera Hati, Jakarta.
Ibn Jarir al-Thabary, Tafsir al-Thabary, Dar al-Qalam, Damaskus, Syria.
Dr. Wahbah Zuhayly, Tafsir al-Munir, Dar al-Fikr, Damaskus, Syria.
(Bahan diskusi ‘Merebut Kembali Makna Agama di Tengah Krisis’ yang diadakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan bersama Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, pada hari Selasa, 6 Juni 2006).
Al-Qur’an banyak sekali mengungkapkan kalimat ‘din’ dalam berbagai surat dan ayat. Kata tersebut terulang dalam 92 kali dan semuanya dalam bentuk tunggal (mufrad), tidak ada satupun dalam bentuk jamak (adyan). Sedangkan kata ‘millah’ terulang 15 kali, juga semuanya dalam bentuk tunggal dan tidak satupun dalam bentuk jamak (milal). Kata ‘nihlah’ tidak terdapat dalam Al-Qur’an, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak (nihal) kecuali satu ayat saja dan bermakna ‘pemberian yang penuh kerelaan’ dalam mahar.
Kata ‘din’ berakar kata dari huruf ‘d-y-n’, yang mempunyai makna ‘meminjam atau berhutang’ bila verbal-nounnya ‘dayn’ (jamak duyun), dan bermakna memeluk (agama) bila berderivasi ‘din’ (jamak adyan). Kata ‘din’ adalah suku kata bahasa Arab original (al-ashil). Bukan kata serapan dari bahasa asing, seperti pendapat semestara ahli yang mengatakan bahwa kata tersebut merupakan serapan dari bahasa Persia.
Menurut Ibn Manzhur dalam kamus ‘Lisan al-‘Arab’ kata ‘din’ ini secara etimologis digunakan dalam empat makna:
‘Din’ dalam makna hukum, kuasa, tunduk, mengatur dan perhitungan (al-hukm wa siyasat al-umur wa al-qahr wa al-tadbir wa al-muhasabah). Contohnya : دانه دينا و دان الناس : قهرهم على الطاعة . Contoh lain, misalnya dikemukakan dalam hadits Nabi saw : الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت . Makna ‘dana’ dalam hadits diatas adalah ‘qahara nafsahu’ menundukkan hawa nafsunya’. Oleh karena itu Nabi Muhammad saw dipanggil oleh para pujangga Arab : Ya Sayyid al-Nas wa Dayyan al-Arab.
Din dalam makna ketertundukan, taat, pengabdian, tunduk (al-taskhir, wa al-itha’at wal abdiyah wa al-khudu’). Contohnya : دان له : أطاعه وخضع له . Dalam hadits Nabi saw misalnya dikemukakan : أريد من قريش كلمة تدين بها العرب . Makna ‘tudiinu biha’ disini adalah taat dan tunduk.
Din dalam makna pembalasan, perhitungan dan ganjaran (al-jaza’ wa al-hisab wa al-mukafa’ah). Dalam kamus ‘Taj al-‘Arus’ dikemukakan bahwa makna ‘din’ adalah al-jaza’ (pembalasan/ganjaran). Begitu juga Al-Zamakhsyari dalam kitab ‘Asas al-Balaghah’ memaknainya dengan ‘al-jaza’. Dalam hadits Nabi dikemukakan : ان الله ليدين للجماء من ذات القرن . Din dalam hadits ini bermakna ‘memberikan balasan atau mengganjar’.
Din dalam makna aqidah (al-I’tiqad). Din berdasarkan pandangan ini adalah jalan atau syariat yang dilaksanakan oleh seseorang.
Ibn Faris, seorang ahli bahasa Arab dalam karyanya ‘Mu’jam Maqayis al-Lughah’ dalam entri ‘d-y-n’ berpendapat bahwa semua akar kata tersebut berasal dari asal yang sama, dan makna derivasinya juga merujuk kepada makna asalnya. Sehingga ‘din’ bermakna semua jenis dari ketertundukan dan keterhinaan (al-inqiyad wa al-dzull). Bila merujuk pada pandangan Ibn Faris, maka semua makna etimologis yang dikemukakan diatas merupakan species dari makna genus ‘ketertundukan dan keterhinaan’.
Dari keempat makna yang dikemukakan diatas bila dikonversikan ke dalam penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an, maka Al-Qur’an mempergunakan keempat makna tersebut dalam berbagai ayat di dalamnya sebagai makna terminologis.
Makna pertama ‘din’ adalah ‘kekuasaan tertinggi dan hukum Allah (al-Sulthat al-Ulya wa al-Hukm Lillah). Makna kedua adalah ketertundukan dan taat kepada kekuasaan Allah (al-Tha’at wa al-Idz’an lihakimiyat Allah wa Sulthanihi). Kedua makna ini tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan lainnya. Contoh-contohnya dalam Al-Qur’an antara lain:
أفغير دين الله يبغون وله أسلم من فى السموات والأرض طوعا وكرها وإليه يرجعون. آل عمران : 83 .
وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء . البينة : 5
وله ما فى السموات والأرض وله الدين واصبا أفغير الله تتقون . النحل : 52
هو الحى لا إله إلا هو فادعوه مخلصين له الدين َ الحمد لله رب العلمين . غافر : 65
Kata ‘din’ dalam ayat-ayat di atas bermakna kekuasaan tertinggi dan ketertundukan kepada kekuasaan tertinggi tersebut serta menerima ketaatan dan pengabdian kepada-Nya.
Makna ketiga dari ‘din’ adalah syariat dan sistem kehidupan dibawah kekuasaan Tuhan (al-Syariat wa al-Nizham al-Ka’in tahta Sulthan Allah wa Hakimiyyatihi).
Contohnya dikemukakan dalam ayat-ayat berikut:
قل يأيها الناس إن كمتم فى شك من دينى فلا أعبد الذين تعبدون من دون الله ولكن أعبد الله الذى يتوفاكم وأمرت أن أكون من المؤمنين ، وأن أقم وجهك للدين حنيفا ولا تكونن من المشركين. يونس: 104-105
أم لهم شركاء لهم من الدين ما لم يأذن به الله . الشورى : 21
Makna ‘din’ dalam ayat diatas mempunyai makna syariat dan sistem kehidupan (amaliyah) yang dilakukan manusia terhadap ajaran agama. Apabila hukum dan syariat dimana manusia terikat dan tunduk pada aturan yang bersumber dari Tuhan, maka ia berada dalam agama Tuhan. Sedangkan apabila ia tunduk pada sistem dan aturan buatan manusia, maka ia berada pada sistem bikinan manusia, seperti ditegaskan dalam surat Yusuf “ ما كان ليأخذ أخاه فى دين الملك “, (Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut aturan Raja. Q.s., Yusuf: 76). Makna Din dalam ayat ini adalah sistem kekuasaan Raja Mesir pada masa Nabi Yusuf.
Makna keempat adalah ganjaran dan hitungan (al-Jaza wa al-Mukafa’ah). Al-Qur’an mengemukakan beberapa ayat, antara lain:
إنما توعدون لصادق ،وإن الدين لواقع . الذاريات : 5-6
وما أدرىك ما يوم الدين ، ثم ما أدرىك ما يوم الدين ، يوم لا تملك نفس لنفس شيئا والأمر يومئذ لله. الإنفطار: 17-19
وقالوا يويلنا هذا يومُ الدين . الصافات : 20
Kata ‘din’ dalam Al-Qur’an juga ada yang idhafat dengan al-haq (din al-haq). Misalnya dalam surat al-Tawbah: 33 dan Al-Shaf: 9, juga surat al-Fath: 28.
هو الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون. التوبة: 33 والصف: 9
هو الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا . الفتح : 28
Dari ke-92 kata ‘din’ dalam Al-Qur’an semuanya idhafah (ma’rifah) kepada pemilik Syariat atau pemeluknya (yang juga bersumber dari Allah), dan hanya empat buah ayat yang nakirah yaitu pada surah Alu Imran: 85, al-Nisa’: 125, al-Ma’idah: 3 dan al-An’am: 161.
Makna Millah
Al-Millah terdapat dalam Al-Qur’an dan terulang 15 kali dan semuanya dalam bentuk tunggal. Delapan kali kata tersebut beridhafah kepada Nabi Ibrahim. Semua ini terdapat dalam surat-surat Al-Baqarah: 130 dan 135, Alu Imran: 95, al-Nisa’: 125, al-An’am: 161, Yusuf: 38, al-Nahl: 123, dan al-Haj: 78. Sedangkan sisanya beridhafah kepada dhamir, seperti dalam surat Al-A’raf: 88 dan 89 (Millatina dan Millatikum, kisah Nabi Su’aib), Surat Ibrahim: 13 (millatina), Surat Shad: 7 (al-Millat al-Akhirati), Al-Baqarah: 120 (Millatahum) dan Surat al-Kahfi: 20 (Millatihim).
Makna ‘al-Millah’ menurut Abu al-Faraj al-Asfahani dalam karyanya ‘al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an’ millah sama dengan ‘din’ yaitu syariat Allah kepada hamba-Nya melalui para Nabi a.s. agar dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Ibn Jarir al-Thabary juga menyamakan antara ‘din’ dengan ‘millah’. Sedangkan al-Zamakhsyari dalam ‘Asas al-Balaghah’ kata ini dapat dipahami secara metafor yaitu jalan yang disyariatkan (al-thariqat al-maslukat), seperti millah Ibrahim. Ia membedakan antara ‘din’ dengan ‘millah’. Millah adalah nama bagi sejumlah syariat. Begitu juga pendapat Abu Hilal al-‘Askari seorang ahli linguistik bahasa Arab. Cuma Al-Asfahani membedakan antara keduanya. Millah tidak diidhafahkan kecuali kepada Nabi yang membawanya seperti ‘millata Ibrahima’ atau ‘millata Aba’i Ibrahima wa Ishaqa wa Ya’kuba (12:38). Tidak terdapat idhafah kepada Allah dan tidak dipergunakan kecuali dalam sejumlah syariat. Seperti misalnya ‘Millatullahi’. Sedangkan ‘din’ hanya diidhafatkan kepada Allah.
Menurut M. Quraish Shihab, kata ‘millah’ terambil dari kata yang berarti ‘mengimla’kan’, yakni membacakan kepada orang lain agar ditulis olehnya. Ini karena agama atau ‘millah’ adalah tuntunan-tuntunan yang disampaikan Allah swt bagaikan sesuatu yang diimla’akan atau ditulis sehingga sama sepenuhnya dengan apa yang disampaikan. Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw dipersamakan dengan ‘millah’ Ibrahim karena prinsip-prinsip ajaran Islam sama dengan prinsip-prinsip ajaran Nabi Ibrahim as seperti tauhid, fitrah, moderasi, penegakan hak dan keadilan, keramahtamaan dan lain-lain.
Sedangkan Ibn Manzhur dalam ‘Lisan al-‘Arab’ memaknai millah adalah syariat dan agama (din). Millah adalah agama seperti millah Islam, Kristen dan Yahudi; makna yang lain adalah sejumlah agama dan apa yang dibawa oleh para Rasul. (hal. 4271).
Imam Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadits dalam shahihnya ketika paman Nabi Muhammad saw akan meninggal beliau dating, dan disitu sudah ada tokoh kafir Quraisy. Nabi mengajarkan Abu Thalib mengucapkan dua kalimat syahadat, tiba-tiba disela oleh Abu Jahal dengan mengatakan ‘atarghabu ‘an millat Abdul Mutahlib’ (أترغب عن ملة عيد المطلب ؟ ).
Dari keterangan diatas para Ulama tidak membedakan antara ‘millah’ dan ‘din’.
Makna Nihlah
Kata ‘Nihlah’, jamak ‘Nihal’ tidak terdapat dalam Al-Qur’an kecuali satu ayat yang terdapat dalam surat al-Nisa’ yang berbicara mengenai mahar (mas kawin). وآتوا النساء صدقاتهن نحلة (4:4) yang bermakna ‘pemberian yang penuh kerelaan’, dan kata ‘al-Nahl’ yang berarti lebah (Q.s, al-Nahl:68).
Hans Wehr dalam Kamus Arabic-English Disctionary juga memberikan makna yang sama seperti diatas yaitu present, gift, donation; dan creed, faith, sect. Demikian juga Al-Asfahani dalam ‘al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an’, hanya saja ia menegaskan bahwa makna nihlah lebih khusus ketimbang hibah. Semua hibah masuk ke dalam makna nihlah, sedangkan tidak semua nihlah hibah.
Akar kata ‘n-h-l’ yang mempunyai tambahan beberapa huruf dan menjadi ‘intahala’ maknanya adalah ‘mengklaim’ (mis. Intahala al-A’rabiyah: to claim to be a Bedouin). Makna klaim ini kembali kepada apa yang dikalimnya. Eliyas A. Eliyas dalam ‘al-Qamus al-‘Ashry’ menerjemahkannya sebagai mazhab agama. Ibn Manzhur mengartikannya dengan makna ‘klaim’ (al-da’waa) dan agama. Ia mencontohkannya ‘ ويقال : ما نحلتك أى ما دينك ؟
Para Sarjana Modern menggunakannya menjadi kumpulan akidah dan ibadah yang berlaku bagi seseorang. Dalam makna tersebut, ‘nihlah’ mempunyai makna yang sempit yaitu pengakuan seseorang atau kelompok orang atas kepercayaan tertentu, baik yang bersifat agama atau bukan. Al-Qur’an memang tidak secara ekplisit mengungkapkan kata nihlah, tapi secara implicit mengungkapkan makna yang dikandungnya yaitu ‘ittiba’ al-hawa’ (mengikuti hawa nafsu). Misalnya, ولا تتبع أهواءهم عما جاءك من الحق . (al-Ma’idah: 48). Ibn Hazm juga menyamakan antara nihlah dengan agama atau millah.
Dari penjelasan diatas banyak para ulama yang tidak membedakan antara makna ‘din’, millah dan nihlah. Semuanya memaknainya sama yaitu agama.
Beragama (berdin, bermillah dan bernihlah) fitrah manusia
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk religius. Bahkan ditegaskan Nabi Muhammad saw dalam sabdanya bahwa setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan fitri. Akan tetapi dalam kenyataan kehidupan sehari-hari di lingkungan dimana mereka tinggal, mereka berinteraksi dengan pemeluk agama, millah maupun nihlah yang lain. Bagaimana pandangan Al-Qur’an terhadap masalah tersebut. Dalam hal ini Al-Qur’an berpandangan sangat plural, sebagaimana dikemukakan dalam surat Saba’: 24-26, وإنا أو إياكم لعلى هدى أو فى ضلال مبين ، قل لا تسئلون عما أجرمنا ولا نسئل عما تعملون ، قل يجمع بيننا ربُنا ثم يفتح بيننا بالحق وهو الفتاح العليم .
Ayat diatas menggambarkan bagaimana seharusnya seorang muslim berinteraksi dengan penganut din, millah, dan nihlah yang berbeda dengannya, karena setiap penganut tersebut meyakini kebenaran ajaran yang dianutnya. Dan hal tersebut tidak boleh ditonjolkan dalam masyarakat yang plural dan aneka ragam kepercayaan. Gaya bahasa redaksional ayat diatas disebut oleh para ualama dengan istilah ‘uslub al-inshaf’ (tenggang rasa), dimana si pembicara tidak secara tegas mempersalahkan lawan bicaranya. Karena nanti Allah akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Nasruddin Latief
Referensi:
M. Fuad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras lialfazh al-Qur’an al-Karim, Mu’assah al-Jamal, Beirut, Lebanon. Tt.
Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, Dar al-Ma’arif, Cairo, Mesir.
Imam Bukhari, Shahih Bukhari,
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Lentera Hati, Jakarta.
Ibn Jarir al-Thabary, Tafsir al-Thabary, Dar al-Qalam, Damaskus, Syria.
Dr. Wahbah Zuhayly, Tafsir al-Munir, Dar al-Fikr, Damaskus, Syria.
(Bahan diskusi ‘Merebut Kembali Makna Agama di Tengah Krisis’ yang diadakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan bersama Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, pada hari Selasa, 6 Juni 2006).
Monday, July 11, 2005
TAFSIR 2 : DEMI WAKTU
Allah swt berfirman, "Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal saleh, dan berwasiat dalam kebenaran dan berwasiat dalam kesabaran". Q. s., al-'Ashr
Surat al-'Ashr atau lebih populer di lidah kita surat 'wal ashri' ini sangat populer di kalangan umat Islam Indonesia, bahkan banyak yang mengfalanya di luar kepala, karena ayat-ayatnya pendek dan ringkas. Tapi bagaimana mengenai mengamalkannya, belum tentu semuanya bisa?.
Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, yang lebih dikenal dengan Imam Syafi'i, imam mazhab fikih yang paling dianut oleh umat Islam Indonesia pernah berpesan bahwa cukup bagi seseorang mengamalkan isi surat ini dalam kehidpan sehari-harinya. Kenapa Imam Syafi'i sampai berpendapat demikian?
Surat 'wal ashri' ini dibuka dengan sumpah Allah swt mengenai waktu. Allah banyak bersupah dengan waktu misalnya wal fajri (demi waktu/fajar). Karena kehidupan sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari dimensi waktu, dimana kita hidup dan bergerak di dalamnya. Orang yang sudah berlalu waktunya tidak dapat meraihnya kembali. Hanya waktu yang akan datang yang bisa diraihnya. Oleh karena it, kalau mau menyesal, menyesallah mengenai masa depan. Bukan menyesali masa lalu.
'Semua manusia sungguh dalam keadaan merugi'. Lafaz manusia disini dikemukakan dalam bentuk umum (universal). artinya segala tipe manusia tidak pandang bulu status mereka. Laki-perempuan, anak-anak-orang dewasa, kecil-besar, tua-muda, pembantu-majikan, bos-karyawan, atasan-bawahan, pekerja-penganggur, presiden-rakyat dll dalam keadaan merugi. Kecuali yang mempunyai 4 buah benteng pertahanan:
1. Kecuali orang-orang beriman. Ayat ini juga dikemukakan dalam bentuk 'kata kerja lampau' atau fi'il madhi/past tense. Artinya orang-orang yang telah mempunyai iman di dalam hatinya dan imannya sudah mantap. Orang yang seperti ini adalah orang selamat dalam hidupnya, kata Allah.
2. Orang-orang yang beramal saleh. Amal saleh adalah amal perbuatan yang berdasarkan bimbingan akal pikiran dan akal budi (mata hati). Orang-orang yang selalu dalam perbuatannya terbimbing dengan mata hati sebagai wujud cahaya Tuhan dalam dirinya adalah orang yang beramal saleh. Karena saleh maknanya adalah perbuatan yang dibimbing oleh hati nurani.
3. Orangorang yang berwasiat dalam kebenaran. Ayat ini dikemukakan dalam bentuk 'saling'. artinya orang yang saling mengingatkan dalam kebenaran. Maksudnya adalah orang-orang yang membuka diri pada kritikan dan juga menegur saudaranya yang lain untuk memperbaiki dirinya.
4. Orang-orang yang saling berwasiat dalam ketabahan. Kata sabar dalam bahasa Arab, arti tepatnya dalam bahasa Indonesia adalah tabah. Hanya orang-orang yang saing membuka diri untuk bersikap tabah dan juga mengingatkan saudaranya yang lain untuk tabah dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup ini akan selamat dalam menghadapi kehidupan di dunia dan juga di akherat.
karena kandungan surat ini yang ringkas, padat, dan tepat inilah yang menyebabkan imam Syafi'i berkomentar bahwa cukup bagi seseorang mengamalkan isi dan kandunagn surat ini, insya Allah hidupnya akan terbimbing dan selamat baik di dunia maupun di akherat.
Wallahu A'lam.
H. Nasruddin Latief, M.A.
(Ringkasan kajian Halaqoh Ahad, 10 Juli 2005 di masjid Ammar, IUHK, Wancai, Hongkong).
Saturday, July 09, 2005
JAGALAH HATI
JAGALAH HATI
Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya Ilahi
Bila hati kian bersih, pikiran akan jernih
Semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih
Namun bila hati hati keruh, batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh, dengan Allah kian jauh
Bila hati kian suci, tak ada yang tersakiti
Pribadi menawan hati, ciri Mukmin sejati
Tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk
Akhlak kian terpuruk, jadi makhluk terkutuk
Bila hati kian lapang, hidup susah tetap senang
Walau kesulitan datang, dihadapi dengan tenang
Tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit
Seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit
wtih permission to Aa Gym
Friday, July 08, 2005
HADITS
Rasulullah saw bersabda' "Sesungguhnya semua perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya seseorang itu tergantung apa yang diniatkannya".
Hadits ini sudah sangat terkenal, dan menjadi hafalan wajib bagi siswa siswi madrasah (sekolah agama). Urgensi dan isi dari hadits ini mengandung makna yang sangat luas bagi seorang muslim. Karena apa yang sebenarnya dilakukan seseorang itu tergantung niat yang diucapkannya. Bila kita melakukan suatu perbuatan baik, tapi niatnya bukan karena Allah swt, sebenarnya perbuatan itu tidak ada nilainya di sisi Allah. Misalnya, seseorang yang melakukan shalat rajin sekali dan baik, tapi niatnya bukan karena melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Ia ingin dipuji orang lain dan ingin mendapatkan sesuatu dari orang lain, misalnya ingin mendapat simpati dari orang tua gadis pilihannya. Maka ibadah shalat yang dilakukannya tidak mempunyai nilai di sisi Allah.
Oleh karena itu, saya ingin mengingatkan saudari-saudariku yang berada di Hongkong, agar memasang niat yang baik kita bekerja mencari rizki di bumi Allah. Karena bumi Tuhan itu luas. Diamanapun kita berada, disitulah bumi Allah dipijak. Niat kita mencari kerja di Hongkong ini karena ingin dapat beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kelebihan rizki yang ada (gaji) harus kita syukuri dengan menabungnya untuk masa depan agar dapat kita -nanti- mengabdikan diri kita dengan lebih baik lagi bersama keluarga di kampung. Kita harus mentargetkan hidup kita selama di Hongkong ini. Berapa tahun kontrak kita disini, dan selama itu juga berapa dollar yang dapat kita tabung dan simpan. Tanpa niat dan target, usaha dan tenaga yang kita keluarkan akan sia-sia.
Karena itu, sekali lagi mari kita pasang niat kita sebaik-baiknya. Semoga Allah swt senantiasa memberikan kita kekuatan iman dan Islam sehingga kita dapat melaksanakan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya. Amin.
H. Nasruddin Latief, M.A.
TAFSIR : MAKNA TAQWA
Allah berfirman : "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang paling bertaqwa di antara kalian". (Q. s., al-Hujurat: 13). Juga firman Allah dalam surat yang lain : "Sesungguhnya Allah menyintai orang-orang yang bertaqwa". (Q. s., al-Tawbah : 7).
Berbicara mengenai taqwa sudah sering kita dengar dan juga kita baca. Tapi makna sesungguhnya dari kata 'taqwa' tersebut seringkali kabur dan tidak jelas dalam pemahaman kita. Selama ini masyarakat muslim memaknai kata taqwa dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia menjadi 'takut'. Apakah makna demikian benar? Apakah memang Allah itu harus ditakuti? Dan apakah benar makna taqwa itu adalah takut? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kata takut kalau kita cari makna bahasa Arabnya adalah 'khawf'. Kata ini juga terdapat dalam Al-Qur'an.
Kalau kita lacak akar kata 'taqwa' dalam bahasa Arab/Al-Qur'an, ia berasal dari kata 'waqaa-yaqii-wiqaayatan'. Ada pepatah bahasa Arab dalam hal ini yaitu "al-Wiqaayatu khayrun min al-'ilaaj" (Sikap berhati-hati/menjaga kesehatan lebih baik dari pada pergi ke dokter). Jadi makna 'taqwa' dari akar kata bahasa Arabnya adalah 'sikap berhati-hati menjaga diri dari perbuatan dosa sekecil apapun, apalagi dosa besar. Misalnya bagaimana kita yang hidup di kota besar dan bebas seperti Hongkong ini harus 'taqwa', artinya menjaga diri dan berhati-hati dari segala sesuatu yang membuat kita berdosa, seperti ingin coba makan babi, minuman keras, atau lain-lain.
Dari makna diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa 'orang-orang yang bertaqwa' adalah orang yang menjaga dirinya dari perbuatan dosa/kesalahan kecil. Kalau dosa besar itu sudah keluar dari arena taqwa. Oleh karena itu orang yang terjerumus - maaf - dalam perzinaan seperti yang dilakukan oleh banyak saudari kita di Hongkong ini -nauzubillah - sudah keluar dari dirinya ketaqwaan kepada Allah swt.Oleh karena itu, kita harus kembali ke jalan taqwa, yaitu jalan Allah. Karena Allah sudah memberikan guide line bahwa hanya taqwalah sebagai bekal yang paling baik dalam kehidupan kita di dunia dan kehidupan akherat. Tanpa bekal taqwa tersebut hidup kita menjadi hampa, tidak karuan, berantakan, hambar, goncang, tidak ada pegangan dan lain-lain.
Semoga Allah swt senantiasa memberikan kita kekuatan iman dan Islam selama perjuangan kita berada di Hongkong ini. Amin ya Rabbal Alamin. Wallahu A'lam,
H. Nasruddin Latief, M.A.
Berbicara mengenai taqwa sudah sering kita dengar dan juga kita baca. Tapi makna sesungguhnya dari kata 'taqwa' tersebut seringkali kabur dan tidak jelas dalam pemahaman kita. Selama ini masyarakat muslim memaknai kata taqwa dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia menjadi 'takut'. Apakah makna demikian benar? Apakah memang Allah itu harus ditakuti? Dan apakah benar makna taqwa itu adalah takut? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kata takut kalau kita cari makna bahasa Arabnya adalah 'khawf'. Kata ini juga terdapat dalam Al-Qur'an.
Kalau kita lacak akar kata 'taqwa' dalam bahasa Arab/Al-Qur'an, ia berasal dari kata 'waqaa-yaqii-wiqaayatan'. Ada pepatah bahasa Arab dalam hal ini yaitu "al-Wiqaayatu khayrun min al-'ilaaj" (Sikap berhati-hati/menjaga kesehatan lebih baik dari pada pergi ke dokter). Jadi makna 'taqwa' dari akar kata bahasa Arabnya adalah 'sikap berhati-hati menjaga diri dari perbuatan dosa sekecil apapun, apalagi dosa besar. Misalnya bagaimana kita yang hidup di kota besar dan bebas seperti Hongkong ini harus 'taqwa', artinya menjaga diri dan berhati-hati dari segala sesuatu yang membuat kita berdosa, seperti ingin coba makan babi, minuman keras, atau lain-lain.
Dari makna diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa 'orang-orang yang bertaqwa' adalah orang yang menjaga dirinya dari perbuatan dosa/kesalahan kecil. Kalau dosa besar itu sudah keluar dari arena taqwa. Oleh karena itu orang yang terjerumus - maaf - dalam perzinaan seperti yang dilakukan oleh banyak saudari kita di Hongkong ini -nauzubillah - sudah keluar dari dirinya ketaqwaan kepada Allah swt.Oleh karena itu, kita harus kembali ke jalan taqwa, yaitu jalan Allah. Karena Allah sudah memberikan guide line bahwa hanya taqwalah sebagai bekal yang paling baik dalam kehidupan kita di dunia dan kehidupan akherat. Tanpa bekal taqwa tersebut hidup kita menjadi hampa, tidak karuan, berantakan, hambar, goncang, tidak ada pegangan dan lain-lain.
Semoga Allah swt senantiasa memberikan kita kekuatan iman dan Islam selama perjuangan kita berada di Hongkong ini. Amin ya Rabbal Alamin. Wallahu A'lam,
H. Nasruddin Latief, M.A.
Tuesday, July 05, 2005
Assalamualaikum
Dengan hormat,
Rekan-rekan seiman, ini adalah alamat blog saya. Insya Allah saya akan menggunakannya untuk informasi dan berbagi pengetahuan diantara sesama kita.
Oleh karena itu semoga kita dapat memanfaatkan media ini untuk kepentingan bersama.
Salam,
H. Nasruddin Latief, M.A.
Rekan-rekan seiman, ini adalah alamat blog saya. Insya Allah saya akan menggunakannya untuk informasi dan berbagi pengetahuan diantara sesama kita.
Oleh karena itu semoga kita dapat memanfaatkan media ini untuk kepentingan bersama.
Salam,
H. Nasruddin Latief, M.A.